Bukan Kehebatan, Tapi Ketaatan

ReMAKA: Renungan Malam Keluarga Allah

BACAAN HARI INI
1 Korintus 1:18-31

RHEMA HARI INI
1 Korintus 1:27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

Ketaatan yang benar menuntut totalitas. Bukan berarti orang yang taat adalah orang yang sudah bisa melakukan 100%, tetapi minimal mereka berjuang dengan sungguh-sungguh untuk melakukan 100% sesuai dengan petunjuk yang sudah diberikan. Meskipun dengan segala keterbatasan manusia yang ada, terkadang ada jatuh dan bangunnya, tetapi orang yang hatinya ingin mentaati Tuhan, akan terus berjuang sungguh-sungguh ingin mentaati 100% sehingga hati Tuhan disukakan. Kalau ada 10 perintah, maka ia berjuang melakukan kesepuluh-sepuluhnya sesuai dengan petunjuknya. Kalau hanya melakukan 9 saja, itu belum bisa dikatakan sebagai ketaatan. Ketaatan adalah ketaatan, tidak peduli apakah itu cocok dengan hati kita atau tidak. Kalau kita masih mencoba melakukan perintah Tuhan sesuai dengan pemikiran kita sendiri, itu namanya bukan ketaatan.

Kisah ini merupakan legenda kuno yang sering diceritakan sebagai sebuah intermezzo. Pada suatu hari Yesus memerintahkan kepada murid-murid-Nya untuk membawa batu. Semua murid-Nya taat, kecuali Petrus yang hanya membawa batu kerikil. Kemudian mereka naik ke gunung bersama-sama. “Kenapa kamu bawa kerikil?” tanya murid lainnya, “Kan Dia minta kita bawa batu.” Petrus menjawab dengan sikapnya yang tegas, “Ngapain susah-susah bawa batu? di gunung kan sudah banyak batu!” Setelah sampai di gunung, Yesus berkata, “Siapkan batu yang kamu bawa di tangan masing-masing!” Kemudian Yesus berdoa dan mengucapkan berkat dan tiba-tiba batu itu menjadi roti. Petrus kecewa karena hanya membawa kerikil. Petrus mendapat bagian yang kecil! Pada kesempatan lain, Yesus mengajak murid-murid-Nya ke gunung kembali, tetapi tanpa perintah membawa batu. Kali ini Petrus membawa batu yang besar. Sambil susah payah membawa batunya yang besar itu, ia berkata kepada murid-murid lainnya, “Mengapa kalian tidak membawa batu?” “Habis Yesus nggak kasih perintah kok!” jawab mereka. “Awas ya, kalian nanti tidak boleh minta roti ini!” ancam Petrus. Sampai di gunung, Tuhan Yesus berkotbah, tetapi batu Petrus tidak berubah. Petrus menggoyang-goyangkan batunya dan dalam hatinya berkata, “Mungkin Tuhan lupa!” Tetapi sampai selesai Tuhan berkotbah, batu itu tetap tidak berubah menjadi roti.

Sikap mengacuhkan perintah-perintah atau mendahului perintah-perintah sangatlah berbahaya. Bukan yang hebat yang dicari Tuhan, Tuhan Yesus membutuhkan orang-orang yang mau mendengarkan perintah-Nya dengan baik dan melakukannya dengan tepat, itulah ketaatan seratus persen. Merekalah yang akan dikaruniai Tuhan urapan berkuasa dalam hidupnya.

RENUNGAN
Yang membuat Tuhan memberikan URAPAN UNTUK BERKUASA dalam hidup kita bukanlah kehebatan kita, tetapi KETAATAN.

APLIKASI
1. Mengapa Tuhan tidak membutuhkan orang yang hebat lebih daripada orang yang taat?
2. Dalam hal apa kita harus taat kepada Tuhan?
3. Apa komitmen yang akan Anda buat untuk mentaati Tuhan 100%?

DOA UNTUK HARI INI
“Bapa, kami bersyukur, bahwa dalam segala kelemahan kami, Engkau tetap Tuhan yang terus menuntun, mengajari dan memberikan kemampuan kepada kami untuk taat kepada kehendak-MU. Kami mau mengikuti Engkau dan taat kemanapun Engkau membawa kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.”

Pentingnya senantiasa membangun persekutuan dengan Tuhan terus-menerus.

Kita tahu bahwa tanpa hubungan yang intim dengan Roh Kudus sebenarnya kita ini kosong. Itu sebabnya gereja kita sangat mendorong bahkan menyediakan fasilitas supaya jemaat bisa membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan melalui ReKA (Renungan Keluarga Allah) yang dibagikan kepada setiap jemaat setiap pagi.

Tetapi sebenarnya, untuk sebuah pertumbuhan rohani yang sehat, kuat, serta konsisten, kita tidak cukup hanya bersekutu dengan Tuhan 1x di pagi hari saja, melainkan kita harus melakukannya dengan konsisten, setiap saat bersekutu dengan Tuhan.

Secara jasmani saja, kita bisa saja makan 1x dalam 1 hari, tetapi kekuatan tubuh kita tidak akan bisa maksimal jika dibandingkan dengan kalau kita makan 3x sehari. Demikian juga dalam hal minum obat, kebanyakan obat harus diminum 3x sehari supaya tubuh kita yang sakit bisa segera sembuh. Oleh sebab itu bagaimana mungkin kita bisa berpikir bahwa roh kita bisa kuat kalau kita hanya memberi makan roh kita 1x sehari saja? Kita perlu memberi makan manusia roh kita setidaknya 3x sehari, sama seperti kita memberi makan manusia jasmani kita.

Kita bisa melihat Tuhan Yesus, teladan yang sempurna bagi kita semua. Bagaimana IA terus-menerus membangun hubungan yang intim dengan Bapa-Nya. Pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Tuhan Yesus sudah duduk diam di bawah kaki Tuhan. Siang hari di tengah-tengah kesibukan-Nya melayani orang-orang yang membutuhkan mujizat-Nya, Tuhan Yesus melepaskan diri dari keramaian dan datang kembali kepada Tuhan. Malam hari, ketika kebanyakan orang sudah tidur, Tuhan Yesus menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan.

Begitu juga dengan kehidupan Daud. Dikatakan di dalam Alkitab bahwa 7x dalam sehari Daud memuji-muji Tuhan. Ini artinya Daud memiliki persekutuan yang konsisten dan terus-menerus dengan Tuhan. Demikian juga dengan Daniel. 3x sehari Daniel berlutut, berdoa, serta memuji Allah. Smith Wigglesworth, hamba Tuhan yang dipakai Tuhan membangkitkan banyak orang mati, berkata ia tidak berdoa lebih dari 15 menit, tetapi ia tidak akan melewatkan 15 menit berlalu tanpa berdoa. Tidak heran jika orang-orang besar yang dipakai Tuhan luar biasa itu memiliki kehidupan roh yang kuat, mantap dan penuh kuasa.

Itulah sebabnya mengapa penting sekali bagi kita untuk terus-menerus membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan. Namun, kendala yang terjadi di banyak kehidupan kita sehari-hari adalah seringkali kita lupa bersekutu dengan Tuhan saat kita sudah disibukkan dengan berbagai macam hal yang harus kita kerjakan sepanjang hari itu. Itu sebabnya saat ini ReKA hadir 3x dalam sehari untuk mengingatkan kita supaya senantiasa membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan terus-menerus sepanjang hari. Dengan adanya ReKA setiap pagi, siang, dan malam ini, maka kita akan terus didorong membangun persekutuan yang intim, kuat, dan konsisten dengan Tuhan sehingga manusia roh kita semakin lama akan semakin dibangun dan dikuatkan untuk melakukan hal-hal yang besar bagi kemuliaan Tuhan.