Saya Sembuh dari Penyakit Asma Keturunan!

Sebelumnya saya bukan orang Kristen. Saya diajak teman-teman mengenal Tuhan Yesus di Keluarga Allah. Saya mengalami kesembuhan ketika mengikuti ibadah KKR tahun yang lalu. Ketika saya dibaptis dan masuk kelompok sel, saya tidak tahu apa itu KKR. Ketika mengikutinya pun saya merasa biasa-biasa saja. Pada saat ada orang memberikan kesaksian, saya mendapat lawatan Tuhan sehingga tertawa-tawa sendiri.

Saya memiliki penyakit asma keturunan. Sejak saya kecil sampai tahun lalu, asma saya selalu kambuh sehingga obat tidak pernah lupa saya bawa. Saya kesulitan tidur karena posisi tidur seperti apapun akan membuat saya tidak bisa bernapas dengan baik. Sampai saya ingin tahu sebenarnya ada apa dalam tubuh saya karena saya merasa tidak kuat. Setiap kena angin malam atau batuk sedikit saja pasti asma saya kambuh.

Pada ibadah KKR hari terakhir, saya tertawa terus dengan tangan menepuk dada saya dan rasanya langsung plong. Selama setahun kemarin saya selalu mengikuti ibadah jam tujuh malam dan saya tidak pernah lagi sesak napas. Puji Tuhan saya sudah disembuhkan. Sampai saat ini saya berdiri di mimbar, asma saya hilang.

Pada KKR tahun ini saya juga mengalami hal yang luar biasa. Saya membuka hati dan membiarkan Tuhan bekerja melawat saya dengan bebas. Saya didoakan dan rebah, bahkan bibir saya berkata-kata sendiri dan tubuh saya berputar-putar. Ketika pulang, saya merasa hidup saya menjadi baru. Pikiran dan hati saya menjadi baru. Ada dorongan dalam hati saya untuk bersaksi, tapi saya takut melihat begitu banyak orang di sini.

Saya merasakan sukacita dan damai sejahtera yang melimpah, sekalipun mendengar perkataan orang yang tidak enak tapi hati saya tetap semeleh. Di keyakinan saya dulu tidak ada yang seperti ini, tapi Tuhan Yesus saya dapatkan semuanya, baik kesembuhan, sukacita, mujizat bahkan damai sejahtera.

Saya berterima kasih kepada PKS saya yang terus mendorong saya untuk datang KKR. Bahkan kemarin pada saat KKR saya dilawat Tuhan sehingga bisa berbahasa Roh padahal sebelumnya saya tidak bisa berbahasa roh. Demikian kesaksian saya dan Tuhan memberkati.

Bp. Bambang Juari

Saya Dilepaskan dari Kuasa Gelap!

Saya sudah Kristen sejak kecil tapi pada saat SMU ayah saya mulai mengajari saya ilmu tenaga dalam. Saya mempelajarinya karena saya ingin menjadi jagoan. Sekalipun demikian saya juga rajin beribadah di gereja. Kemudian saya menikah dengan seorang wanita yang juga adalah seorang Kristen baru. Tapi istri saya tidak bisa bertumbuh dengan baik di gereja kami sehingga bersama dengan teman-temannya dia beribadah dan kemudian bergabung di gereja Kelurga Allah karena ingin bisa bertumbuh dengan baik. Sepulang dari KKR pengurapan Roh Kudus di gereja Keluarga Allah istri saya bersaksi pada saya tapi saya menolak dan berkata bahwa itu hanyalah pendeta atau nabi palsu. Saya berkata bahwa berdoa tidak perlu sampai menangis atau ketawa-tawa seperti orang gila.

Tiba-tiba, pada suatu malam ada kerinduan besar dalam diri saya untuk datang ke gereja Keluarga Allah. Tapi saya datang dengan penuh keangkuhan. Saya duduk di pojok belakang dan saat itu yang memimpin pujian adalah Pdm. Samuel Duddy dan lagunya adalah “Ku Mau Cinta Yesus Selamanya”. Saat itu saya duduk tapi pada lagu yang kedua tiba-tiba saya berdiri dengan tangan terangkat dan saya tersedu-sedu sampai tidak bisa bernapas. Saya bingung, sudah tua seperti ini hanya menyanyi begitu saja bisa sampai menangis tersedu-sedu. Seketika tubuh saya merinding. Setelah itu seperti ada sesuatu yang keluar dari tubuh saya dan saya merasa sangat senang.

Selain itu saya juga mengucapkan bahasa roh padahal saat itu saya belum melepaskan ilmu tenaga dalam saya. Tiba-tiba saya berteriak, “Tuhan ampuni dosa saya.” Saya teriak-teriak sambil menangis kemudian lidah saya bergerak-gerak sendiri. Saya kaget tapi saya masih terus berkata-kata dalam bahasa yang baru.Kemudian saya bertanya kepada Pak Agung bagaimana lidah saya bergerak-gerak sendiri seperti orang yang sedang mengejek karena saya takut kalau rapalan ilmu saya yang dulu keluar. Pak Agung berkata, “Dipercayai saja bahwa itu bahasa Roh.” Saat itu saya belum tahu karunia bahasa Roh itu seperti apa tapi saya sudah mengalaminya sendiri.

Pada KKR Pengurapan Roh Kudus hari pertama Tuhan menjamah saya. Saat itu saya datang dengan beban hati yang berat karena saya merasa dikecewakan orang tua dan tidak disukai oleh rekan-rekan di tempat kerja saya. Setiap kali merenung saya pasti melamun. Orang-orang berkata kalau melamun itu bisa kemasukan setan. Perkataan itu benar juga. Ketika merenung, saya teringat betapa orang-orang mengecewakan saya. Saya berpikir keras mencari cara supaya rekan kerja saya dipindah ke tempat yang jauh karena saya tidak suka padanya. Suatu ketika saya membuka celah bagi iblis. Karena kecewa hati, pagi-pagi setelah selesai olah raga saya melatih tenaga dalam saya lagi dengan tujuan untuk mencelakai rekan kerja saya itu. Tapi saya pikir lagi, saya sudah bertobat tapi masih ingin mencelakai orang lain. Kalau saya mencelakai berarti saya sedang menabur dan pada saatnya nanti pasti akan menuainya.

Pada saat kenaikan Tuhan Yesus, saya malas sekali datang ke gereja, mulut saya memang mengajak istri saya ke gereja tapi sebenarnya dalam hati saya menolak. Setelah kenaikan Tuhan Yesus selalu diadakan KKR Pengurapan Roh Kudus dan inilah yang saya nanti. Dan benar, saya dilawat dan seluruh tubuh saya bergetar dan tangan saya bergerak-gerak sendiri. Kemudian saya didoakan dua kali. Ketika ditinggal saya rebah dan menangis sejadi-jadinya dan lalu ganti tertawa-tawa sampai saya pikir saya sudah gila.

Biasanya kalau saya duduk, di atas leher bagian belakang terasa sakit sekali dan sakit ini sudah saya rasakan lebih dari sebulan. Sekalipun saya sudah minum obat maupun tidur seharian sakit itu tidak juga sembuh. Pada waktu KKR setelah mendapat lawatan saya rebah dan kepala saya membentur lantai. Ketika bangun kepala saya terasa ringan. Kemudian saya bersimpuh di lantai dan mengucap syukur pada Tuhan.

KKR hari berikutnya, saya juga dilawat Tuhan. Tiba-tiba badan saya kaku sekali seperti patung kemudian bergerak seperti hendak memukul orang tapi tidak jadi, berulang kali seperti itu. Ada pendoa yang mendekati saya dan menyuruh saya untuk melepaskan pengampunan. Saya ingin berdoa tapi terasa sulit, sehingga saya hanya bersendawa dan saya lepaskan pengampunan kemudian tubuh saya lemas lagi dan bisa duduk. Saya mengucap syukur pada Tuhan yang sudah memberi saya roh sukacita dan damai sejahtera.

Hal indah lain yang terjadi adalah ketika saya masuk kantor dan bertemu dengan rekan kerja yang sebelumnya saya benci, saya mendapati bahwa Tuhan sudah mencabut segala kebencian dari hati saya. Segala kemuliaan bagi nama Tuhan!

Bp. Daniel Sudayoto

Benjolan Saya Disembuhkan

Saya ingin bersaksi untuk anak saya Ester. Ketika saya datang KKR hari pertama anak saya menderita sakit yaitu benjolan di belakang telinga. Ketika saya periksakan di puskesmas oleh dokter saya disuruh memeriksakannya ke Rumah Sakit Pusat dengan diberi surat pengantar. Saat itu saya tidak memiliki uang karena suami saya sudah pergi meninggalkan saya ketika saya sedang hamil 7 bulan. Saat itu saya bergumul, “Tuhan, bagaimana caranya ini? Saya sudah dikucilkan di tengah-tengah keluarga, sekarang anak saya sakit dan tidak punya uang sepeser pun. Kalau saya ke RS Pusat maka anak saya harus dioperasi karena ada benjolannya.” Kemudian saya beranikan diri berbicara pada orang tua saya. Tapi orang tua saya menjawab, “Kamu kan, sudah punya Tuhan Yesus. Kenapa kamu tidak lari ke gereja saja. Minta disembuhkan Yesusmu. Saya sudah tidak suka dari dulu. Buktinya, sekarang kamu susah larinya ke orang tua juga.” Begitu jawaban orang tua saya dan dalam hati saya berkata, “Ya, saya memang akan lari ke Yesus.”

KKR hari pertama saya datang dengan iman. Saya tidak memiliki uang sepeser pun. Sebelumnya di kelompok sel diumumkan kalau sudah disewakan kendaraan supaya bisa berangkat KKR bersama-sama. Saya bersyukur karena saya bisa berangkat KKR tanpa keluar uang. Dengan iman saya percaya di KKR ini  anak saya akan dijamah Tuhan. Saat lawatan tiba-tiba anak saya seperti kejang dan berbicara bahasa yang aneh. Saat itu saya belum percaya kalau anak saya dijamah Tuhan, bahkan saya berpikir, “Wah, anak saya kena transfer roh jahat.” Ditambah lagi tiba-tiba teman saya berkata, “Mbak, nanti pulangnya sendiri-sendiri.” Pikir saya, “Aduh, anak saya kemasukan roh jahat sekarang disuruh pulang sendiri. Tapi, ya sudah. Tuhan, nanti saya pulang jalan kaki tidak apa-apa.”

Saat itu saya minta jamahan Tuhan supaya anak saya sembuh. Ketika pulang ibadah saya belum terpikir kalau anak saya sudah dijamah Tuhan. Sampai di rumah, saya sangat terkejut ketika saya melepas jaket anaknya saya. Ternyata benjolan di belakang telinganya sudah lenyap.

Malam kedua saya datang dan ingin bersaksi tapi saya belum yakin kalau benjolan itu sudah benar-benar hilang. Saya terus melihat ke belakang telinga anak saya dan benjolan itu sudah hilang. Saya berkata kepada ayah saya, “Pak, anak saya tidak jadi saya bawa ke pusat. Kata Bapak saya disuruh bawa ke Tuhan Yesus, setelah saya bawa ke Tuhan Yesus ternyata anak saya benar-benar dijamah.” Mendengar itu bapak saya terpana. Dia berkata, “Saya menyuruh anak kamu di bawa ke Tuhan Yesus karena saya sedang marah. Tapi Tuhan kamu baik sekali sampai menyembuhkan anak kamu.”

Hari keempat KKR ketika hendak berangkat bapak saya memberi saya uang sambil berkata, “Ini untuk persembahan. Ucapan terima kasih karena sudah menyembuhkan anak saya.” Saya berdoa supaya Tuhan menjamah bapak saya supaya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Puji nama Tuhan.

Ibu Debora

Saya Tidak Lagi Terikat Pada Kalung dan Cincin

Tahun 1995 saya menggunakan cincin dan kalung salib. Saya tidak pernah merasa bahwa kalung dan cincin itu sudah saya utamakan atau menjadi jimat dalam hidup saya. Saya hanya menganggap bahwa kalung atau cincin itu sebagai perhiasan atau aksesori. Saya menganggap kedua barang ini berharga karena menemani dalam suka dan duka selama saya berada dalam pekerjaan saya yang dahulu, juga menemani saat saya dalam keadaan bahaya dan hampir mati. Jadi saya merasa bahwa kalung dan cincin itu mengetahui sejarah hidup saya. Saya tidak pernah berpikir untuk menjualnya karena suatu saat saya ingin memberikan kalung dan cincin salib itu kepada anak laki-laki saya. Selama bertahun-tahun cincin dan kalung itu melekat di tubuh saya. Selama 24 jam tidak pernah saya lepaskan kecuali kalau saya sedang membersihkannya.

Suatu kali ketika saya sedang membersihkannya, kalung dan cincin itu saya letakkan di meja. Kemudian saya melanjutkan aktivitas tapi selama beraktivitas itu saya merasakan ada sesuatu yang kurang. Ternyata itu disebabkan karena saya tidak memakai kalung dan cincin salib. Setiap kali saya lupa memakai kedua benda itu saya langsung merasa aneh sekalipun saya tidak menempatkan kedua benda itu sebagai jimat. Pernah suatu ketika saya hendak pergi pelayanan, selama perjalanan naik motor saya merasa ada yang aneh. Ternyata karena saya tidak memakai cincin atau kalung salib saya. Sekalipun sudah setengah perjalanan tapi saya kembali ke rumah untuk mengambil dan memakainya sehingga saya terlambat untuk pelayanan. Beberapa waktu kemudian saya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam hidup saya. Saya sudah terikat dengan kalung dan cincin salib saya itu.

Saya berada dalam posisi terikat sehingga sekitar bulan September atau Oktober saya mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan saya dengan cincin dan kalung saya. Saya lepaskan dan saya simpan kedua benda itu. Dalam proses itu saya sudah sejahtera dan sukacita karena tidak ada lagi yang menempel pada tubuh saya. Dalam jangka waktu melepaskan itu, ketika saya menghadiri resepsi pernikahan atau acara-acara penting saya memakai lagi kalung atau cincin salib itu. Saya menyadari ketika saya memakai kedua benda tersebut saya tidak merasa sejahtera. Sekalipun begitu seperti ada pembelaan dari diri saya, “Tidak apa-apa, nanti dilepas juga bisa.” Saya melakukannya berulang-ulang sampai akhirnya kedua benda itu kembali saya pakai.

Sampai kemarin ketika saya mengikuti KKR, saya duduk di balkon bagian barat. Sejak awal saya sudah dilawat. Dimulai dari kaki saya yang bergerak perlahan-lahan dalam keadaan saya tetap menyembah. Tapi kaki saya semakin lama bergerak semakin cepat. Kemudian tangan saya juga mulai bergerak dan semakin lama semakin cepat. Saya masih dalam posisi duduk ketika punggung tangan saya memukul-mukul kaki saya terus menerus sampai ratusan kali sampai kaki saya sakit tapi saya tidak bisa menghentikannya. Tidak hanya itu, tubuh saya juga bergoncang terus dalam posisi orang yang sedang menyembah terus menerus sampai saya kelelahan. Kemudian tangan saya bergerak lagi seperti orang yang sedang menebang sampai saya kelelahan.

Saat itu Tuhan menegur, saya diingatkan kalau tahun sebelumnya saya sudah pelepasan dari keterikatan pada kalung dan cincin. Tangan saya bergerak terus seperti orang yang sedang mengibaskan sesuatu supaya terlepas. Hal itu berlangsung lama sekali.

Saya percaya Tuhan sangat mengasihi saya. Tuhan mengetahui keterikatan saya dengan salib. Pemimpin rohani saya dan Pak Obaja mungkin tidak tahu bahwa saya terikat dengan kalung dan cincin salib saya. Tapi Tuhan Allah saya tahu bahwa saya sedang terikat. Dan Tuhan berkata, “Ayo lepaskan. Kamu sudah punya janji. Langkah iman dan rohani kamu terhambat dengan apa yang kamu pakai.” Meskipun  bentuknya salib ternyata kedua benda itu sudah menghambat kerohanian saya. Tuhan sedang menebang habis hal-hal yang tidak berkenan di hadapanNya. Bahkan Tuhan berkata, “Kamu sudah melayani pelepasan tapi kamu sendiri masih terikat.” Orang lain tidak tahu, saya sendiri tidak tahu tapi Tuhan Allah saya tahu. Dan sifat-sifat yang tidak berkenan harus dipangkas habis.

Saya percaya bila Tuhan melawat saya maka Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang baik bagi saya. Demikian juga dengan Anda, kalau anda sedang dilawat Tuhan dan tidak tahu apa artinya, percaya saja bahwa Allah sedang mengerjakan hal yang baik dalam hidup kita.

Bp. Arief Christyo

Saya Mengalami Damai Sejahtera dan Jamahan Tuhan

Teman saya memberi tahu bahwa pada hari pertama KKR Pengurapan Roh Kudus dia mendapat lawatan dan bisa berbicara 4 bahasa roh. Padahal, menurut saya hanya ada satu saja macam bahasa roh. Teman saya juga memberi tahu bahwa teman-teman lain yang datang bisa bersukacita, bahkan tertawa-tawa sendiri. Saya pikir itu tidak mungkin karena hanya seperti orang yang digelitik saja sehingga tawanya tidak akan seperti itu. Karena tidak percaya maka saya berkata pada teman saya bahwa saya akan ikut dengannya datang ke gereja pada hari Minggu.

Hari minggu itu saya datang jam setengah enam pagi dan duduk di bagian belakang. Jujur saja, saya adalah orang yang penakut, kalem, lugu, dan pemalu. Kalau pemimpin pujian menyuruh angkat tangan, saya sangat malu sehingga tangan saya angkat hanya setengah dan kelihatan aneh sekali.
Kemudian teman saya berkata, “Mungkin hari Minggu tidak ada pelepasan.” Mendengar hal itu saya merasa kecewa tapi teman saya berkata, “Apa minta minyak urapan dulu saja.” Tapi saya memutuskan untuk datang lagi hari Senin sekaligus kalau hendak minta minyak urapan. Sebelum berangkat saya mempersiapkan diri dahulu. Segala sesuatu kalau dipersiapkan terlebih dahulu pasti hasilnya akan maksimal. Sebelum berangkat saya berdoa, “Tuhan, tolong supaya saya merasakan jamahan seperti yang teman saya rasakan. Saya rindu untuk mengalaminya sendiri.”

Di gereja, ketika saya sedang menyembah Tuhan tiba-tiba air mata mengalir seperti sedang menyesali kesalahan-kesalahan saya. Ketika kursi-kursi di singkirkan, saya masih tetap menyembah Tuhan. Saya mengatakan semua yang bisa saya katakan, saya juga minta ampun atas semua dosa dan kesalahan yang sudah saya lakukan.
Tiba-tiba tangan saya merasa kesemutan dan kedua tangan bergerak cepat sekali. Kemudian saya merasakan ada hamba Tuhan yang memegang punggung dan dahi saya. Begitu dahi saya dipegang saya langsung rebah dan merasakan damai yang luar biasa. Rasanya seperti dimasukkan ke dalam air tapi tidak tenggelam. Saya senang sekali, bahkan dijatuhkan berkali-kali pun saya mau.

Hari Selasa saya datang lagi dan rebah karena jamahan Tuhan. Hari itu saya mendapatkan sukacita yang melimpah. Tiba-tiba saya bisa tertawa sendiri. Apa yang dulu saya katakan pada teman saya bahwa tidak mungkin orang bisa tertawa sendiri, sekarang saya sendiri mengalaminya. Saya tidak langsung tertawa keras, tapi tertawa kecil-kecil dahulu mungkin hanya dua atau tiga kali. Kemudian saya benar-benar tertawa terbahak-bahak sampai hati saya benar-benar puas.

Saya datang lagi pada hari berikutnya dan setiap hari saya dilawat Tuhan. Memang benar apa yang dikatakan Pak Obaja tentang baterai. Baterai kalau di re-charge maka tenaganya akan semakin bertambah dan semakin lama akan semakin kuat. Saya juga merasakan hal itu. Saya ingin menambahkan juga bahwa orang yang terus dijamah Roh Kudus tidak hanya semakin lama semakin kuat tapi menjadi kecanduan Roh Kudus dan selalu ingin menyembah.

Hari itu saya datang dengan lebih bersemangat. Saya sudah dilawat bahkan sebelum kursi disingkirkan. Tuhan memberi saya damai sejahtera dan sukacita. Saya pikir Tuhan bisa tahu dengan tepat posisi saya. Saya tidak rebah karena saya masih berdiri di depan kursi. Kalau saya rebah kasihan orang-orang di sekeliling saya. Tuhan melawat saya dengan lembut, tubuh saya dibuat seperti bersimpuh. Saya bahagia sekali dan terus memuji Tuhan.

Ketika Firman Tuhan disampaikan saya masih merasakan sukacita yang meluap tapi saya berusaha menawar Tuhan, “Tuhan, nanti dulu saja. Sekarang saya mau konsentrasi mendengarkan Firman Tuhan supaya tidak mengganggu yang lain.” Tuhan mengijinkan sehingga saya tidak tertawa. Tapi Roh Kudus tidak mau tinggal diam sekalipun mulut saya diam tapi Roh Kudus membuat kaki saya bisa goyang-goyang sendiri. Semakin lama bergerak memutar semakin cepat. Roh Kudus benar-benar ajaib. Roh Kudus benar-benar ada.

Pada hari ke empat saya merasakan Roh Kudus lebih lagi. Sejak dari tempat parkir saya sudah merasa, “Wah, saya pasti dijamah Tuhan habis-habisan.” Sejak mulai duduk saya sudah menyembah Tuhan. Kemudian Tuhan membawa saya ke samping sehingga saya bisa menyembah dengan leluasa bahkan sampai berguling-guling. Saya rasakan kepala saya sampai membentur sesuatu dan agak sakit. Sebenarnya saya capai tapi Tuhan berkata, “Bebaskan rohmu.” Maka saya pun membebaskan roh saya.
Kemudian kursi-kursi di singkirkan dan saya menyembah lagi. Saya tidak jatuh rebah mungkin karena Tuhan tahu kalau saya sudah kelelahan sehingga saya jatuh perlahan dan ambil posisi seperti orang yang bersimpuh. Roh Kudus menjamah saya dengan lembut. Roh Kudus memang baik, Dia tahu kalau kita sedang dalam kondisi yang lemah sehingga Roh Kudus tetap menopang sekalipun kita jatuh.

Pada waktu terjatuh saya terus memuji Tuhan. Sudah lama saya rindu ingin memuji Tuhan sambil diiringi gitar. Terus terang saya tidak bisa main gitar tapi tiba-tiba saja tangan saya bergerak-gerak seperti orang sedang main gitar. Saya juga ingin memainkan alat musik yang lain seperti drum dan kecapi. Sekalipun saya tidak tahu bagaimana cara memainkan kecapi tapi Roh Kudus menuntun saya sehingga tangan saya bergerak-gerak seperti orang sedang memainkan kecapi. Saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, saya ingin lagi. Apa lagi yang akan Kau berikan pada saya? Tuhan, saya ingin memuji Engkau dengan tarian.” Tiba-tiba saja tangan saya tidak bisa berhenti digerakkan seperti orang yang sedang menari. Saya ingat pelajaran di SD ada tari Jaipong lalu saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, saya ingin menari jaipong.” Seketika itu juga saya bergerak seperti orang sedang menari Jaipong. Kemudian saya ingat tari lilin dan seketika menari lilin. Saya sebutkan semua tari yang saya tahu bahkan sampai tari kecak dari Bali. Yang ingin saya katakan adalah, “Roh Kudus itu ada, Dia hadir di tempat ini dan ingin menjamah saudara dan saya. Saya merasakan bahwa Roh Kudus dicurahkan dengan luar biasa.” Kalau kita dijamah Roh Kudus maka kita akan merasakan sukacita, damai sejahtera yang luar biasa yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Kemuliaan bagi Tuhan!

Sdr. Mulyono

Hati Saya Dipulihkan!

Saya datang pada KKR hari pertama. Saat pujian penyembahan saya merasa roh saya dibangun. Tapi ketika ada yang menyampaikan kesaksian, saya hanya mendengar dan melihat saja. Bukan karena saya tidak percaya karena saya pernah mengikuti retret encounter dan pernah mengalami mengalami lawatan jadi saya sangat percaya. Tapi saat itu saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam hati sehingga terus menerus saya memandang ke jam sambil mengeluh kapan acaranya akan selesai.

Ketika khotbah disampaikan, saya tetap memperhatikan dan mencatat semuanya. Tapi rasanya hati saya biasa-biasa saja. Selesai khotbah semua kursi disingkirkan dan banyak orang turun ke bawah untuk didoakan. Ketika banyak orang menjerit-jerit, saya hanya mengangkat tangan dan menaruh tangan saya di dada karena saya tidak tahu harus berdoa apa. Akhirnya saya berdoa, “Tuhan, kalau Tuhan mau penuhi saya, penuhi saya sampai meluap, penuhi saya dengan urapan dobel porsi.” Kemudian ketika tangan saya terangkat tiba-tiba terasa berat seperti orang yang kesemutan. Tangan saya mulai bergerak dari lambat menjadi tambah cepat dan semakin cepat. Saya ingin menghentikannya tapi tidak bisa. Kemudian saya jatuh dan ketika jatuh itu saya sudah tidak ingat apa-apa. Saya melihat ruangan ini seperti kosong. Kemudian ada suara yang berkata, “Anakku.” Ketika saya mendengar suara itu, hati saya benar-benar hancur. Hal itu dikarenakan sejak dari dalam kandungan sampai sebesar ini, saya belum pernah melihat wajah ayah saya. Setiap kali saya bertanya, kakak dan ibu saya berkata bahwa ayah saya sudah meninggal. Tapi setelah besar, saya tahu bahwa sejak dalam kandungan, ayah saya sudah pergi meninggalkan kami. Jadi saya tidak pernah merasakan kasih seorang ayah. Ketika saya dipanggil, “Anakku,” rasanya sangat menyenangkan. Setelah itu saya menangis seperti anak kecil dan tangan saya ini mengelus-elus wajah saya. Saya seperti dielus-elus Tuhan Yesus. Rasanya sungguh luar biasa. Setelah itu saya bisa tertawa karena merasakan Tuhan begitu mengasihi saya.

Kemudian, saya merasa seperti hendak diberi sesuatu sehingga tangan saya meraih-raih. “Ambil, ambil semua sampai kamu penuh,” kata Tuhan. Tuhan sudah menyediakan kasih yang melimpah dan saya mengambil semuanya. Setelah saya ambil kemudian Tuhan berkata, “Kamu sudah mengambil semuanya, sekarang maukah kamu mengampuni?” Saya menjawab, “Ya, Tuhan, saya mau mengampuni semuanya.” “Semua dendam kamu?” tanya Tuhan.  Dan saya menjawab, “Ya, Tuhan, semua dendam saya.” Sebenarnya saya merasa tidak dendam. Dengan ayah saya pun biasa-biasa saja. Ketika diberi tahu bahwa ayah saya ada di suatu tempat, saya merasa tidak dendam, tapi mungkin secara tidak sadar hal itu tersimpan dalam hati saya. Saya kecewa tapi tidak mengatakannya. Pada saat itulah Tuhan memulihkan dan memenuhi hati saya dengan kasihNya. Setelah saya dipulihkan dan bisa mengampuni tiba-tiba di ruangan ini seperti ada banyak sekali jemaat. Ada yang sakit dan yang berlutut, dan saya seperti orang yang hendak tumpang tangan sambil berkata, “Kamu sembuh, kamu sembuh di dalam nama Yesus.” Lalu Tuhan bertanya, “Kamu mau seperti itu?” dan saya menjawab, “Mau, Tuhan, saya mau menyembuhkan mereka.
Kemudian tangan kiri saya bergerak seperti Tuhan ingin menunjukkan tangannya yang berlubang paku dan jari saya seperti hendak masuk ke dalam lubang itu. Tuhan berkata, “Ambil, ambil.” Dan saya terus melakukan gerakan yaitu telapak tangan kanan saya membuka dan jari tangan kiri saya terus menunjuk-nunjuk ke tengahnya. Lalu Tuhan berkata, “Sekarang bagikan dan jadilah berkat.” Kemudian saya berkata sambil menunjuk-nunjuk, “Kamu sembuh, kamu sembuh.” Allah kita sungguh luar biasa.

Pada awal ibadah, ketika saya masih duduk di belakang, saya terus melihat ke arah jam dan bertanya-tanya kapan acaranya akan selesai. Tapi setelah dilawat Tuhan, saya yang paling akhir pulang. Sampai di rumah saya ingat khotbah Pak Samuel Dudy pada saat doa puasa, “Bilur Yesus melalui lubang paku di tanganNya mengubah tangan kita yang sebelumnya penuh kegagalan menjadi penuh keberhasilan.” Kemudian saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, saya mau tangan saya ini menjadi berkat dan terus menjadi berkat.”   Kemuliaan bagi Tuhan.

Saya Menerima Pengurapan yang Baru!

Saya ingin menyaksikan lawatan Tuhan yang sudah saya terima. Saat itu saya datang dalam KKR 10 hari untuk melayani Karena saya hendak melayani maka saya mengikuti pengurapan itu. Pada waktu itu saya merasa kering dan saya menginginkan sesuatu yang baru. Saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, ini kurang.” Ketika mulai menyanyi dan menyembah Tuhan, air mata saya tidak bisa berhenti mengalir tapi kemudian saya tertawa. Saya merasa aneh dengan keadaan itu. “Kenapa seperti ini Tuhan?” tanya saya. Tuhan menjawab saya dengan berkata, “Kamu membutakan mata kamu sendiri. Sebetulnya kamu melihat dan merasakan bahwa Aku mengasihi kamu tapi kamu membutakannya. Karena itu kamu menangis. Kamu menangisi kebodohanmu, tetapi kamu tertawa karena kamu bersukacita.”

Saat itu tangan saya seperti kesemutan. Kemudian Tuhan berkata lagi, “Gerakkan, gerakkan! Karena itu adalah berkat. Kalau berkat itu kamu simpan sendiri, maka akan terlalu berat dan kamu merasa mati. Karena itu harus kamu sebarkan. Kalau kamu tidak membagikan berkat itu, kamu akan mati.” Karena itu saya bersyukur sekali dengan kesaksian ini. Yang ingin saya tekankan adalah, “Percaya, imani, maka kamu akan menerima.”   Kemuliaan bagi Tuhan!

Sdri. Yeni

Tuhan Mengampuni dan Mengasihi Saya

Oleh kemurahan Tuhan, saya bisa mengikuti KKR sejak hari pertama. Hari pertama saya mendapat lawatan yang biasa saja. Saya hanya menangis dan menangis terus. Tapi pada hari ke dua saya mendapat lawatan yang luar biasa. Saat itu saya duduk di bagian tengah dan mendengar suara yang berbisik pada saya, “Ayo berdiri.” Tapi saya tidak mau. Saya membuka mata dan melirik kanan kiri saya tapi tidak ada yang berdiri. Saya berkata, “Tidak, Tuhan, saya malu.”

Suara itu terdengar lagi dan menyuruh saya berdiri. Saya masih tetap duduk, bahkan bersembunyi lebih dalam. Suara itu berbicara lagi bahkan lebih keras seperti membentak, “Ayo berdiri!” Akhirnya saya berdiri dan menyembah Tuhan. Saat itu saya belum merasakan apa-apa. Tiba-tiba tangan saya mulai bergerak dan terus bergerak. Saya mencoba menghentikan gerakan tangan saya karena saya tidak mau kalau itu cuma dibuat-buat. Tapi jari tengah tangan kiri saya terasa seperti kesetrum dan menjadi kaku, kemudian bergerak-gerak dan semakin lama semakin cepat. Saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saya capek. Kenapa tidak ada pendoa yang mendoakan saya.” Tapi Tuhan memiliki rencana yang lain. Tuhan ingin saya melepaskan semuanya. Tangan saya terus bergerak selama beberapa saat. Namun setelah itu tangan saya berhenti dengan sendirinya dan mulai lagi dengan gerakan yang lebih lambat. Bukan hanya tangan saya, tapi seluruh tubuh saya ikut bergerak, saya merasa seperti dibuai oleh Tuhan.

Saat itu Tuhan menyuruh saya untuk mengingat lagi ke hidup saya yang lalu. Dulu saya aktif dalam pelayanan tapi kemudian meninggalkan Tuhan dan melakukan banyak dosa. Saya berdoa, “Tuhan, siapa saya? Saya adalah hambaMu yang penuh dengan dosa. Saya merasa tidak sanggup. Saya merasa tidak berarti di hadapanMu ya, Tuhan. Tidak mungkin Tuhan mengampuni saya.” Saya merasa dosa yang saya perbuat sudah sangat besar dan merupakan suatu kebodohan dalam hidup saya. Kemudian Tuhan berbisik kepada saya, “Aku mengasihi kamu.” Mendengar itu saya menangis meraung-raung sambil memukul-mukul tubuh saya. Saat itu Tuhan sedang membasuh, menyucikan saya, mengangkat dan menghilangkan semua dosa-dosa saya. Dan Tuhan menganggap saya kudus.  Tuhan menganggap saya berarti di hadapanNya. Dan Tuhan ingin memakai saya lebih lagi. Saya mengucap syukur sekali.

Kemudian Tuhan membawa saya untuk menari dan menari dengan lembut. Saya mengucap syukur karena Tuhan berkata bahwa saya harus mensaksikan hal ini. Saya harus mensaksikan kedahsyatan Tuhan pada lebih banyak orang dan Tuhan akan memberi saya lawatan yang lebih dahsyat lagi bagi saya. Terima kasih saya mengucap syukur atas kesaksian ini.

Sdri. Evelin

Saya Mendapat Lawatan Roh Kudus Setelah Mengaku Dosa

Nama saya Partono Subanto, sedangkan nama baptis saya adalah Obaja. Saya beribadah di Keluarga Allah ini kurang lebih 4 bulan. Sebenarnya saya sudah pernah merasakan lawatan Tuhan tapi sudah berlalu lama sekali. Saya berpikir kenapa sudah begitu lama Roh Kudus tidak melawat saya. Setelah saya pikirkan, saya dapati diri saya sudah melakukan banyak dosa. Tentang hal ini memang harus kita akui. Kalau ingin benar-benar berserah dan percaya kita harus mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan.

Setelah mendengar pengumuman tentang diadakannya KKR 10 hari, saya memutuskan untuk datang. Saya memiliki kerinduan yang sangat besar untuk merasakan lawatan Tuhan dan sejak kemarin saya sungguh-sungguh sudah mengalami lawatan itu kembali. Sebelumnya saya sudah mohon ampun dan bertobat atas semua dosa-dosa serta kesalahan yang sudah saya lakukan di masa yang lalu.

Dalam KKR 10 hari saya merasakan lawatan Tuhan rasanya seperti hembusan angin. Saya seperti sedang bermimpi. Saya seperti tidak sadar tapi sebenarnya saya sadar. Saya pikir apa saya hanya berpura-pura bergerak. Ketika bergerak-gerak begitu saya masih agak tidak percaya. Tapi ketika saya ingin berhenti, justru gerakan itu semakin cepat, semakin cepat dan terus semakin cepat. Saat itu di telinga saya terdengar bisikan, “Teruslah memuji Tuhan. Jangan berhenti memuji Tuhan”, demikian terus berulang kali. Setelah itu saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Puji Tuhan!

Bp. Partono Subanto

Akhirnya Saya Percaya Pada Pengurapan Roh Kudus

Saya adalah anggota kelompok sel Ibu Maria Glory. Ketika mengikuti ibadah penuaian di Sumber saya terkejut karena melihat orang-orang yang berdoa sampai berteriak-teriak. Saya merasa tidak enak kalau sampai didengar tetangga dan takut kalau mereka menjadi marah. Saya masih belum percaya kalau orang bisa berdoa sampai menjerit-jerit. Bu Maria berkata pada saya, “Pak Mardi, besok ikut KKR pengurapan Roh Kudus.” Saya pun mengiyakan ajakan tersebut.

Saya datang pada KKR hari pertama dan saya masih tidak percaya bagaimana orang-orang bisa berdoa sampai berteriak-teriak. Tiba-tiba kaki saya gemetar, tapi saya dalam keadaan sadar. Saya tidak bisa menghentikan gerakan kaki saya dan saya mulai berkata-kata dalam bahasa yang baru. Mulut saya bisa berkata-kata sendiri dengan bahasa roh.

Saya heran dan bertanya-tanya dalam hati apakah itu dibuat-buat. Tapi itu adalah kuasa Tuhan. Saya berkata-kata bahasa yang tidak saya mengerti, bahkan sampai berteriak-teriak tidak karuan entah sampai berapa lama. Saya menjerit keras sekali sampai saya bingung bagaimana saya bisa melakukan hal itu. Kemudian Tuhan memberi saya petunjuk untuk terus berkata, “Haleluya! Haleluya! Haleluya!” Dan selama itu pun tubuh dan kaki saya terus gemetar seperti orang yang kedinginan. Saya juga tidak bisa berhenti menjerit-jerit tetapi setelah itu saya merasakan damai sejahtera yang sangat luar biasa bahkan saya dipenuhi dengan kerinduan untuk membalas cinta kasih Tuhan dengan melayani dan menjadi PKS. Di situ mata saya dicelikkan bahwa ternyata kuasa Roh Kudus bisa bekerja dengan berbagai macam cara. Saya pun bertekad supaya tidak menjadi jemaat yang biasa-biasa saja tapi terus maju lebih dalam lagi di dalam Tuhan dan mulai melayani dengan menjadi PKS seperti Ibu Maria Glory.

Bp. Mardi

Languages

Change Language