Latihan Untuk Mencapai Level Disiplin Rohani

ReMAKA: Renungan Malam Keluarga Allah

BACAAN HARI INI
Roma 5:1-11

RHEMA HARI INI
Roma 5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

Di hari pertama ikut fitnes, Eric sangat antusias. Ia ingin sesegera mungkin punya tubuh yang berotot dan proporsional. “Ric, ayo kita mulai latihan, bebannya sepuluh kilogram ya!” perintah sang instruktur. Sehari setelah latihan, Eric mulai merasakan pegal ditubuhnya. Namun karena sudah bertekad, ia terus mengikuti latihan demi latihan dengan tekun dan disiplin. Beberapa waktu kemudian ia sudah tidak merasa pegal, bahkan beban yang sebelumnya dirasa berat kini terasa sangat ringan. Instruktur secara bertahap mulai menaikkan level beban latihan. Sampai akhirnya ia mencapai titik maksimal atau target yang ditetapkan untuk memperoleh bentuk tubuh yang diharapkan.

Seperti layaknya tubuh jasmani, tubuh rohani kita juga memerlukan latihan. Agar kita punya kekuatan atau kuasa otoritas untuk memerintah dan mengalahkan setiap musuh-musuh kita. Latihan tersebut antara lain berupa doa, puasa, berbahasa roh, dan lain-lain. Jika selevel Yesus saja masih membutuhkan latihan-latihan rohani, yaitu dengan mengasingkan diri berdoa dan berpuasa empat puluh hari empat puluh malam di padang gurun (Matius 4:2), tidak ada alasan untuk kita menolak latihan bagi tubuh rohani kita. Bagi yang belum pernah melakukan latihan mungkin akan terasa berat dan cepat lelah. Namun tidak ada cara lain, untuk mencapai level disiplin rohani tertentu, dan untuk mencapai kekuatan atau kapasitas tertentu, kita butuh latihan, latihan, dan latihan. Karena hanya melalui latihanlah, ketekunan kita terbentuk, sehingga kita mempunyai roh yang pantang menyerah dan tahan uji yang menimbulkan atau mewujudkan pengharapan dalam diri kita (Roma5:4).

Jika kita rindu memiliki level urapan untuk berkuasa atas bangsa-bangsa, tidak bisa hanya dengan latihan doa lima menit atau sepuluh menit, tetapi dibutuhkan porsi latihan yang berjam-jam bahkan disertai dengan doa dan puasa. Mari bangkit dan harapkan yang besar, harapkan untuk jadi berkat sampai bangsa-bangsa dan bergeraklah. Latihlah diri kita untuk doa, puasa, dan bahasa roh secara intens dan konsisten, maka urapan untuk berkuasa atas bangsa-bangsa akan menjadi milik kita.

RENUNGAN
Untuk mencapai LEVEL DISIPLIN ROHANI, kita BUTUH LATIHAN.

APLIKASI
1. Apa yang harus Anda lakukan untuk mencapai level disiplin rohani?
2. Latihan apa saja yang dapat membuat Anda memiliki urapan untuk berkuasa?
3. Level urapan untuk berkuasa seperti apa yang Anda harapkan terjadi dihidup Anda? Latihan dan perjuangan seperti apa yang akan Anda lakukan untuk mencapai level bangsa-bangsa?

DOA UNTUK HARI INI
“Bapa terimakasih atas urapan untuk berkuasa yang Engkau curahkan atas kami. Kami mau berkomitmen untuk melatih manusia roh kami, melalui doa dan puasa bahkan berbahasa roh secara intens dan konsisten sehingga kami memiliki disiplin rohani yang tinggi dan dapat dipakai sampai level bangsa-bangsa. Di dalam Nama Yesus kami berdoa. Amin.”

Pentingnya senantiasa membangun persekutuan dengan Tuhan terus-menerus.

Kita tahu bahwa tanpa hubungan yang intim dengan Roh Kudus sebenarnya kita ini kosong. Itu sebabnya gereja kita sangat mendorong bahkan menyediakan fasilitas supaya jemaat bisa membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan melalui ReKA (Renungan Keluarga Allah) yang dibagikan kepada setiap jemaat setiap pagi.

Tetapi sebenarnya, untuk sebuah pertumbuhan rohani yang sehat, kuat, serta konsisten, kita tidak cukup hanya bersekutu dengan Tuhan 1x di pagi hari saja, melainkan kita harus melakukannya dengan konsisten, setiap saat bersekutu dengan Tuhan.

Secara jasmani saja, kita bisa saja makan 1x dalam 1 hari, tetapi kekuatan tubuh kita tidak akan bisa maksimal jika dibandingkan dengan kalau kita makan 3x sehari. Demikian juga dalam hal minum obat, kebanyakan obat harus diminum 3x sehari supaya tubuh kita yang sakit bisa segera sembuh. Oleh sebab itu bagaimana mungkin kita bisa berpikir bahwa roh kita bisa kuat kalau kita hanya memberi makan roh kita 1x sehari saja? Kita perlu memberi makan manusia roh kita setidaknya 3x sehari, sama seperti kita memberi makan manusia jasmani kita.

Kita bisa melihat Tuhan Yesus, teladan yang sempurna bagi kita semua. Bagaimana IA terus-menerus membangun hubungan yang intim dengan Bapa-Nya. Pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Tuhan Yesus sudah duduk diam di bawah kaki Tuhan. Siang hari di tengah-tengah kesibukan-Nya melayani orang-orang yang membutuhkan mujizat-Nya, Tuhan Yesus melepaskan diri dari keramaian dan datang kembali kepada Tuhan. Malam hari, ketika kebanyakan orang sudah tidur, Tuhan Yesus menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan.

Begitu juga dengan kehidupan Daud. Dikatakan di dalam Alkitab bahwa 7x dalam sehari Daud memuji-muji Tuhan. Ini artinya Daud memiliki persekutuan yang konsisten dan terus-menerus dengan Tuhan. Demikian juga dengan Daniel. 3x sehari Daniel berlutut, berdoa, serta memuji Allah. Smith Wigglesworth, hamba Tuhan yang dipakai Tuhan membangkitkan banyak orang mati, berkata ia tidak berdoa lebih dari 15 menit, tetapi ia tidak akan melewatkan 15 menit berlalu tanpa berdoa. Tidak heran jika orang-orang besar yang dipakai Tuhan luar biasa itu memiliki kehidupan roh yang kuat, mantap dan penuh kuasa.

Itulah sebabnya mengapa penting sekali bagi kita untuk terus-menerus membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan. Namun, kendala yang terjadi di banyak kehidupan kita sehari-hari adalah seringkali kita lupa bersekutu dengan Tuhan saat kita sudah disibukkan dengan berbagai macam hal yang harus kita kerjakan sepanjang hari itu. Itu sebabnya saat ini ReKA hadir 3x dalam sehari untuk mengingatkan kita supaya senantiasa membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan terus-menerus sepanjang hari. Dengan adanya ReKA setiap pagi, siang, dan malam ini, maka kita akan terus didorong membangun persekutuan yang intim, kuat, dan konsisten dengan Tuhan sehingga manusia roh kita semakin lama akan semakin dibangun dan dikuatkan untuk melakukan hal-hal yang besar bagi kemuliaan Tuhan.