Memberi Saat Kita Membutuhkan

RHEMA HARI INI
Efesus 4: 2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

Namanya Bai Fang Li. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam. Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada. “Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu Rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua. Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis. Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan namun dengan hati yang kaya kemurahan. Dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta Rupiah jika tidak salah) yang dia berikan kepada yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal,satu-satunya yang Ia miliki. Inilah yang disebut memberi yang radikal. Dalam kisah di atas, Bai Fang Li telah memberi di saat dia sendiri membutuhkan. Mari kita menghibur orang lain yang dalam kesedihan di saat kita sendiri dalam kesedihan. Mari kita mengunjungi dan membesuk sahabat kita yang sakit, bahkan di saat sakit kita sendiri belum Tuhan sembuhkan. Mari kita menjadi berkat bagi yang berkekurangan, bahkan di saat kita sendiri sebetulnya membutuhkan. Mari kita berani memberi bagi pekerjaan Tuhan di tengah keterbatasan yang kita alami. Marilah kita berani memberi di saat kita sendiri sedang membutuhkan. (ABU)

RENUNGAN
Kasih yang terbesar adalah MEMBERI disaat kita sendiri sedang MEMBUTUHKAN.

APLIKASI
1. Bagaimana perasan anda ketika anda harus memberi padahal anda sendiri membutuhkan ?
2. Renungkan, apa yang akan anda lakukan apabila ada orang membutuhkan sesuatu dan anda sendiri sedang membutuhkan ?

DOA UNTUK HARI INI
Bapa dalam nama Tuhan Yesus, ajar kami berani memberi di saat kami sedang membutuhkan seperti Engkau telah memberi anakMu yang tunggal untuk menebus dosa kami. Amin