Memiliki Hati Seperti Tuhan

ReMAKA: Renungan Malam Keluarga Allah

BACAAN HARI INI
Lukas 19:37-44

RHEMA HARI INI
Lukas 19:41 Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya,

Ceria, ramah, dan gampang bergaul. Setiap kali bertemu dengan anak-anak yang baru dikenal di sekolah maupun tempat bermain, dengan mudah Lila membaur dengan mereka. Meski sejak lahir Lila merupakan anak tunggal, ia tidak pernah kesulitan bergaul di luar rumah. Menjelang ulang tahunnya yang ke-5, adik ibunya berkunjung dan menginap dengan membawa anaknya yang masih berumur tiga tahun. Sepanjang waktu Lila bermain dengan Echa, adik sepupunya itu. Sewaktu sedang bangun atau tidur, mereka selalu bersama. Suatu kali, dari kamar Lila terdengar tagisan kencang. Baik ibu Lila maupun tantenya segera menghambur masuk ke kamar Lila. Mereka pun mendapati Lila dan Echa sedang banjir air mata. Setelah mereka agak tenang dan bisa ditanyai, mereka mengetahui ternyata Echa terjatuh ketika hendak memanjat lemari. Lila sendiri tidak terjatuh ataupun terbentur apa-apa. “Lalu, kenapa kamu menangis?” tanya tantenya Lila, “Kamu takut dimarahi tante, ya?” Masih sambil sesegukan, Lila menggeleng dan berkata, “Nggak, Lila cuma nggak tahan lihat Echa nangis dan kesakitan. Rasanya jadi sediiih.”

Menangis bersama dengan orang yang menangis. Tertawa bersama dengan orang yang sedang bergembira. Itu adalah hal yang sewajarnya terjadi. Terutama ketika orang yang besangkutan memiliki hubungan yang dekat dengan kita. Semakin besar kepedulian kita kepadanya, semakin mudah hati kita menangkap dan merefleksikan apa yang ada dalam hatinya.

Namun, dalam hubungan pribadi kita dengan Tuhan, seberapa besarkah kita memahami isi hati-Nya? Sudahkah hati kita memancarkan isi hati dan keinginan-Nya? Atau apakah hati kita masih lebih didominasi oleh kepentingan pribadi kita sendiri? Pahamilah, sekarang bukan lagi waktunya untuk sibuk memikirkan kehidupan kita sendiri. Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang besar di tengah-tengah kita. Dia hendak menyatakan kerinduan terbesar-Nya atas jiwa-jiwa terhilang. Milikilah kelaparan roh untuk selamatkan jiwa, maka Tuhan akan melibatkan kita dalam mujizat selamatkan jiwa yang sudah mulai dikerjakan-Nya sekarang ini. (MV.L)

RENUNGAN
Laparlah akan sesuatu yang juga MEMBUAT TUHAN LAPAR, tangisilah sesuatu yang juga MEMBUAT TUHAN MENANGIS; yaitu JIWA-JIWA!

APLIKASI
1. Apakah yang lebih sering Anda tangisi ketika datang ke hadapan Allah?
2. Mengapa Anda perlu memiliki kelaparan roh atas jiwa-jiwa?
3. Bagaimana Anda dapat memiliki kelaparan roh untuk selamatkan jiwa?

DOA UNTUK HARI INI
“Bapa yang baik, terima kasih atas kebaikan-Mu yang begitu besar dalam hidup kami. Bapa, kami ingin lebih memahami lagi isi hati-Mu. Kami ingin lapar terhadap sesuatu yang membuat Engkau lapar, kami ingin menagisi apa yang Engkau tangisi. Biarlah kami dapat Engkau pakai untuk menyelamatkan jiwa-jiwa sesuai dengan kehendak-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami sudah berdoa. Amin.”

Pentingnya senantiasa membangun persekutuan dengan Tuhan terus-menerus.

Kita tahu bahwa tanpa hubungan yang intim dengan Roh Kudus sebenarnya kita ini kosong. Itu sebabnya gereja kita sangat mendorong bahkan menyediakan fasilitas supaya jemaat bisa membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan melalui ReKA (Renungan Keluarga Allah) yang dibagikan kepada setiap jemaat setiap pagi.

Tetapi sebenarnya, untuk sebuah pertumbuhan rohani yang sehat, kuat, serta konsisten, kita tidak cukup hanya bersekutu dengan Tuhan 1x di pagi hari saja, melainkan kita harus melakukannya dengan konsisten, setiap saat bersekutu dengan Tuhan.

Secara jasmani saja, kita bisa saja makan 1x dalam 1 hari, tetapi kekuatan tubuh kita tidak akan bisa maksimal jika dibandingkan dengan kalau kita makan 3x sehari. Demikian juga dalam hal minum obat, kebanyakan obat harus diminum 3x sehari supaya tubuh kita yang sakit bisa segera sembuh. Oleh sebab itu bagaimana mungkin kita bisa berpikir bahwa roh kita bisa kuat kalau kita hanya memberi makan roh kita 1x sehari saja? Kita perlu memberi makan manusia roh kita setidaknya 3x sehari, sama seperti kita memberi makan manusia jasmani kita.

Kita bisa melihat Tuhan Yesus, teladan yang sempurna bagi kita semua. Bagaimana IA terus-menerus membangun hubungan yang intim dengan Bapa-Nya. Pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Tuhan Yesus sudah duduk diam di bawah kaki Tuhan. Siang hari di tengah-tengah kesibukan-Nya melayani orang-orang yang membutuhkan mujizat-Nya, Tuhan Yesus melepaskan diri dari keramaian dan datang kembali kepada Tuhan. Malam hari, ketika kebanyakan orang sudah tidur, Tuhan Yesus menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan.

Begitu juga dengan kehidupan Daud. Dikatakan di dalam Alkitab bahwa 7x dalam sehari Daud memuji-muji Tuhan. Ini artinya Daud memiliki persekutuan yang konsisten dan terus-menerus dengan Tuhan. Demikian juga dengan Daniel. 3x sehari Daniel berlutut, berdoa, serta memuji Allah. Smith Wigglesworth, hamba Tuhan yang dipakai Tuhan membangkitkan banyak orang mati, berkata ia tidak berdoa lebih dari 15 menit, tetapi ia tidak akan melewatkan 15 menit berlalu tanpa berdoa. Tidak heran jika orang-orang besar yang dipakai Tuhan luar biasa itu memiliki kehidupan roh yang kuat, mantap dan penuh kuasa.

Itulah sebabnya mengapa penting sekali bagi kita untuk terus-menerus membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan. Namun, kendala yang terjadi di banyak kehidupan kita sehari-hari adalah seringkali kita lupa bersekutu dengan Tuhan saat kita sudah disibukkan dengan berbagai macam hal yang harus kita kerjakan sepanjang hari itu. Itu sebabnya saat ini ReKA hadir 3x dalam sehari untuk mengingatkan kita supaya senantiasa membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan terus-menerus sepanjang hari. Dengan adanya ReKA setiap pagi, siang, dan malam ini, maka kita akan terus didorong membangun persekutuan yang intim, kuat, dan konsisten dengan Tuhan sehingga manusia roh kita semakin lama akan semakin dibangun dan dikuatkan untuk melakukan hal-hal yang besar bagi kemuliaan Tuhan.