Menabur Dan Menuai 100x Lipat

ReMAKA: Renungan Malam Keluarga Allah

BACAAN HARI INI
Kejadian 26:1-35

RHEMA HARI INI
Kejadian 26:12-13 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.

Deni sedang dalam kesulitan keuangan. Bisnisnya kini tengah lesu, ditambah lagi usaha baru yang baru saja dirintisnya ternyata gagal. Padahal masih banyak tagihan-tagihan yang harus dibayarnya. Ia mulai merasa buntu. Deni tidak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya selain datang kepada Yesus. Namun aneh, justru Tuhan menyuruhnya untuk menabur untuk pekerjaan Tuhan. Dalam hati ia bertanya-tanya, “Untuk keperluanku saja kurang, masa sih saya masih harus menabur juga Tuhan?” Tetapi setelah bergumul, ia merasa bahwa ia harus taat dan melangkah untuk menabur.

Beberapa bulan berlalu dan masih juga Deni merasa jalannya buntu. Sampai tiba-tiba ada seorang bapak paruh baya datang ke tokonya membawa sebuah tas koper kecil. Rupa-rupanya, beliau adalah teman almarhum ayah Deni. Bapak tersebut menceritakan bagaimana ketika dalam kesusahan, ayah Deni dengan sangat tulus membantunya sekalipun ayah Deni sendiri pun tidak dalam kondisi yang berkelimpahan. Dan beliau merasa harus membayar hutang budi itu. Akan tetapi karena ayah Deni sudah meninggal, maka dibayarkanlah hutang-hutangnya pada Deni, berikut dengan bunga-bunganya selama bertahun-tahun. Setelah bapak itu pulang, uang di dalam koper yang dibawa bapak tersebut dihitung Deni. Betapa terkejutnya ia bahwa yang ia terima berlipat-lipat jauh melebihi apa yang ia taburkan. Tidak hanya Deni bisa melunasi tagihan-tagihannya, namun bahkan Deni jadi bisa memajukan bisnisnya dan masih ada sisa.

Ya, janji Tuhan adalah ya dan amin. Ia telah berjanji bahwa ketika kita menabur dengan mencucurkan air mata maka kita akan menuai dengan bersorak-sorai (Maz 126:5-6). Ketika kita menabur dengan iman sekalipun kita sedang dalam masa sukar, Tuhan kita adalah Allah yang tidak pernah berhutang, Ia yang akan menggantikannya berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali lipat. Karena yang Ia butuhkan bukanlah harta kita, melainkan ketaatan dan ketulusan kita kepadanya. Dan sadarilah, bahwa saat kita menabur, yang akan menuai bukan hanya diri kita sendiri, melainkan juga anak cucu kita nantinya tidak akan meminta-minta (Maz 37:25).

RENUNGAN
MENABUR DENGAN IMAN pada masa kekurangan akan membuat kita MENUAI sampai SERATUS KALI LIPAT.

APLIKASI
1. Sudahkah Anda melangkah untuk menabur?
2. Menurut Anda, mengapa Tuhan ingin kita menabur?
3. Renungkanlah dan tuliskanlah apa komitmen yang dapat Anda lakukan untuk menanggapi firman Tuhan ini!

DOA UNTUK HARI INI
“Ya Bapa, kami mau melangkah dengan iman untuk menabur bahkan ketika kami sedang dalam masa sukar sekalipun. Sebab kami tahu, taburan kami tidak akan menjadi sia-sia, karena tidak hanya kami namun juga anak cucu kami pasti akan menuainya bahkan beratus-ratus kali lipat. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.”

Pentingnya senantiasa membangun persekutuan dengan Tuhan terus-menerus.

Kita tahu bahwa tanpa hubungan yang intim dengan Roh Kudus sebenarnya kita ini kosong. Itu sebabnya gereja kita sangat mendorong bahkan menyediakan fasilitas supaya jemaat bisa membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan melalui ReKA (Renungan Keluarga Allah) yang dibagikan kepada setiap jemaat setiap pagi.

Tetapi sebenarnya, untuk sebuah pertumbuhan rohani yang sehat, kuat, serta konsisten, kita tidak cukup hanya bersekutu dengan Tuhan 1x di pagi hari saja, melainkan kita harus melakukannya dengan konsisten, setiap saat bersekutu dengan Tuhan.

Secara jasmani saja, kita bisa saja makan 1x dalam 1 hari, tetapi kekuatan tubuh kita tidak akan bisa maksimal jika dibandingkan dengan kalau kita makan 3x sehari. Demikian juga dalam hal minum obat, kebanyakan obat harus diminum 3x sehari supaya tubuh kita yang sakit bisa segera sembuh. Oleh sebab itu bagaimana mungkin kita bisa berpikir bahwa roh kita bisa kuat kalau kita hanya memberi makan roh kita 1x sehari saja? Kita perlu memberi makan manusia roh kita setidaknya 3x sehari, sama seperti kita memberi makan manusia jasmani kita.

Kita bisa melihat Tuhan Yesus, teladan yang sempurna bagi kita semua. Bagaimana IA terus-menerus membangun hubungan yang intim dengan Bapa-Nya. Pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Tuhan Yesus sudah duduk diam di bawah kaki Tuhan. Siang hari di tengah-tengah kesibukan-Nya melayani orang-orang yang membutuhkan mujizat-Nya, Tuhan Yesus melepaskan diri dari keramaian dan datang kembali kepada Tuhan. Malam hari, ketika kebanyakan orang sudah tidur, Tuhan Yesus menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan.

Begitu juga dengan kehidupan Daud. Dikatakan di dalam Alkitab bahwa 7x dalam sehari Daud memuji-muji Tuhan. Ini artinya Daud memiliki persekutuan yang konsisten dan terus-menerus dengan Tuhan. Demikian juga dengan Daniel. 3x sehari Daniel berlutut, berdoa, serta memuji Allah. Smith Wigglesworth, hamba Tuhan yang dipakai Tuhan membangkitkan banyak orang mati, berkata ia tidak berdoa lebih dari 15 menit, tetapi ia tidak akan melewatkan 15 menit berlalu tanpa berdoa. Tidak heran jika orang-orang besar yang dipakai Tuhan luar biasa itu memiliki kehidupan roh yang kuat, mantap dan penuh kuasa.

Itulah sebabnya mengapa penting sekali bagi kita untuk terus-menerus membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan. Namun, kendala yang terjadi di banyak kehidupan kita sehari-hari adalah seringkali kita lupa bersekutu dengan Tuhan saat kita sudah disibukkan dengan berbagai macam hal yang harus kita kerjakan sepanjang hari itu. Itu sebabnya saat ini ReKA hadir 3x dalam sehari untuk mengingatkan kita supaya senantiasa membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan terus-menerus sepanjang hari. Dengan adanya ReKA setiap pagi, siang, dan malam ini, maka kita akan terus didorong membangun persekutuan yang intim, kuat, dan konsisten dengan Tuhan sehingga manusia roh kita semakin lama akan semakin dibangun dan dikuatkan untuk melakukan hal-hal yang besar bagi kemuliaan Tuhan.