Peduli Berarti Berdoa

RHEMA HARI INI
1 Raja-raja 8:33-34 Apabila umat-Mu Israel terpukul kalah oleh musuhnya karena mereka berdosa kepada-Mu, kemudian mereka berbalik kepada-Mu dan mengakui nama-Mu, dan mereka berdoa dan memohon kepada-Mu di rumah ini, 34 maka Engkaupun kiranya mendengarkannya di sorga dan mengampuni dosa umat-Mu Israel dan mengembalikan mereka ke tanah yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka.

Apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita buta berusia 84 tahun dan adiknya yang menderita arthritis? Tidak banyak memang, tetapi hasilnya luar biasa. Setelah berperang dengan Nazi Jerman, penduduk di Pulau Hebrides yang terletak di pesisir Skotlandia, tidak ada yang pergi ke gereja di hari Minggu. Mereka sibuk membangun kembali rumah dan penghuninya yang hancur akibat Perang Dunia II itu. Di tengah situasi itu, Peggy Smith dan adiknya Christine-pendoa syafaat-berdoa agar kebangunan rohani terjadi di pulau mereka. Mereka datang ke pendeta mereka dan mengatakan bahwa Duncan Campbell (seorang penginjil, red.) harus
datang ke pulau itu untuk mengadakan KKR. Namun saat dihubungi, penginjil Skotlandia itu menolak karena dia memiliki agenda bicara di tempat lain. Mereka tidak putus asa. Mereka terus berdoa agar kebangunan rohani terjadi di sana. Dengan iman mereka bahkan berani meminta pastor mereka untuk mencetak undangan dan membaginya di jalan-jalan. Pada saat yang bersamaan, Duncan Campbell bergumul. Sebelum menerima undangan untuk berkhotbah di Hebrides, cucu perempuannya menyatakan keheranannya mengapa kehendak Tuhan berbeda dengan yang kakeknya khotbahkan. Campbell langsung berlutut dan memperbarui komitmennya, “Saya akan pergi ke mana pun demi kebangunan rohani.” Ketika dia sedang bersiap untuk bicara di Konferensi Keswick Inggris, Roh Kudus mengingatkan kembali akan komitmennya itu. Segera Campbell menoleh ke moderator di sampingnya dan berkata, “Saya mohon maaf, tetapi Tuhan punya rencana lain untuk saya.” Dia segera berangkat naik kapal ke Hebrides. Ketika ia menjejakkan kakinya di pantai Hebrides pada pukul 16.00, seorang tukang pos menunggunya. “Kami percaya Anda akan datang. Anda masih bisa minum teh sebelum kebaktian dimulai.” Saat Campbell mengatakan bahwa dia mengetahui adanya KKR itu, sang tukang pos menjelaskan bahwa publikasi mengenai KKR yang dipimpinnya telah dipasang di mana-mana. Malam itu, Campbell berkhotbah. Isi khotbahnya menyatakan bahwa Allah ingin berada dekat jemaat di Hebrides. “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu” (Yak. 4:8a). Tidak terjadi sesuatu setelah itu. Namun, ketika dia hendak bersalam-salaman dengan jemaat, dia heran karena jemaat tetap bergerombol di halaman gereja dan tidak pulang. Mereka menangis dan berdoa di hadapan Tuhan memohon keselamatan. Hal itu terus berlangsung sampai pukul 4 dini hari. Hebrides mulai mengalami transformasi. Buah-buahnya segera tampak. Bar-bar ditutup karena kehilangan pelanggan. Gereja dipunuhi anak muda. Kebangunan rohani terus berlangsung selama 30 tahun.

Semuanya diawali dari dua orang wanita yang seolah-olah tidak memiliki sesuatupun yang bisa dibanggakan, tersungkur dengan lutut mereka dan berdoa di hadapan Tuhan bagi kebangunan rohani di bangsanya. Kepedulian mereka akan nasib kerohanian bangsanya membuat dua wanita ini bisa dipakai Tuhan, meskipun tidak secara langsung, untuk membawa kegerakan Tuhan yang luar biasa bagi bangsanya. Anda juga bisa melakukannya. Kalau Anda peduli, maka Anda pasti berdoa!

RENUNGAN
Kalau Anda PEDULI akan masa depan bangsa ini, maka Anda pasti BERDOA BAGI BANGSA INDONESIA.

APLIKASI
1. Koreksi, seberapa besarkah kepedulian Anda terhadap masa depan bangsa kita ?
2. Langkah apa yang akan Anda lakukan sebagai perwujudan kepedulian Anda terhadap bangsa kita ?

DOA UNTUK HARI INI
Tuhan berikan kepada kami hati yang sungguh-sungguh peduli akan bangsa kami. Kami rindu melihat kegerakan-MU nyata atas bangsa kami. Biar kemuliaan-MU melanda bangsa kami Indonesia tercinta. Terimakasih Tuhan. Amin.