Perkatakan Perkataan yang Tepat

Renungan Keluarga Allah
Selasa, 12 Juli 2016

BACAAN HARI INI

Amsal 15:1-33

RHEMA HARI INI

Amsal 15:23 Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!

Sebagian besar dari kita mungkin pernah menyesali perkataan kita. Orang yang bijaksana tentu akan ‘berpikir lebih dahulu sebelum berkata-kata’, supaya ia tidak banyak menyesali perkataan yang sebenarnya tidak perlu untuk diucapkan (yang sia-sia/tidak berarti). Seorang fisluf dari Yunani, bernama Publisius berkata: “Saya sering menyesali perkataan saya, tetapi tidak pernah menyesali sikap diam (kebisuan) saya.” Publisius sungguh-sungguh menyadari, betapa ia sering bersalah dalam perkataannya.

Mao Tse Tung dulunya adalah seorang anak sekolah minggu, tetapi karena guru sekolah minggunya suatu kali mengatai dia sebagai ‘anjing kuning’, ia lalu meninggalkan gereja dan menjadi komunis. Peribahasa Tiongkok mengatakan bahwa: “Perkataan yang keluar dari mulut kita itu ibarat anak panah yang kita lepaskan dari busurnya. Jika yang kita lepaskan adalah perkataan yang menyakiti orang lain, maka sekalipun kita sudah meminta maaf, akan tetapi bekasnya masih ada/masih terasa.” Hikmah dari kisah Mao Tse Tung adalah kita harus berhati-hati dengan ucapan/perkataan kita (misalnya: ejekan atau julukan-julukan yang tidak pantas), karena tanpa kita sadari hal itu dapat mengakibatkan luka batin dan berdampak besar bagi perkembangan mental/psikologis seseorang.

Perkataan seperti itu sangat merusak. Itu mengganggu, seperti tetes air dari keran bocor. Itu menyakiti dengan membuat orang lain merasa tidak enak. Perkataan seperti itu membangun rasa bersalah, menyebabkan mereka merendahkan diri, membuang harga diri mereka. Hasilnya semakin merusak hubungan. Tidak baik membuat orang lain merasa buruk. Saat kita meminta seseorang melakukan sesuatu, dan jika mereka setuju tapi gagal, kita bisa mengingatkan mereka dengan kasih yang baik tanpa menyatakan kemarahan atau merendahkan. “Janganlah perkataan tidak sehat keluar dari mulut kita.” Perkatakan perkataan yang lemah lembut dan membangun, supaya perkataan kita menjadi berkat dan motivasi bagi orang yang kita kasihi.

RENUNGAN

PERKATAAN YANG TEPAT akan membuat suasana keluarga menjadi menyenangkan dan penuh kebahagiaan.

APLIKASI

  1. Berapa kali sehari perkataan Anda menjadi berkat bagi orang yang Anda kasihi?
  2. Sejauh mana perkataan Anda sudah membangun dan menjadi berkat bagi orang lain?

DOA UNTUK HARI INI

Urapilah setiap mulut lidah dan bibir kami ya Tuhan, suapaya perkataan yang keluar dari mulut kami senantiasa menjadi berkat bagi orang – orang di sekeliling kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin

BACAAN ALKITAB SETAHUN

Roma 1-3