Saya Dilepaskan dari Kuasa Gelap!

Saya sudah Kristen sejak kecil tapi pada saat SMU ayah saya mulai mengajari saya ilmu tenaga dalam. Saya mempelajarinya karena saya ingin menjadi jagoan. Sekalipun demikian saya juga rajin beribadah di gereja. Kemudian saya menikah dengan seorang wanita yang juga adalah seorang Kristen baru. Tapi istri saya tidak bisa bertumbuh dengan baik di gereja kami sehingga bersama dengan teman-temannya dia beribadah dan kemudian bergabung di gereja Kelurga Allah karena ingin bisa bertumbuh dengan baik. Sepulang dari KKR pengurapan Roh Kudus di gereja Keluarga Allah istri saya bersaksi pada saya tapi saya menolak dan berkata bahwa itu hanyalah pendeta atau nabi palsu. Saya berkata bahwa berdoa tidak perlu sampai menangis atau ketawa-tawa seperti orang gila.

Tiba-tiba, pada suatu malam ada kerinduan besar dalam diri saya untuk datang ke gereja Keluarga Allah. Tapi saya datang dengan penuh keangkuhan. Saya duduk di pojok belakang dan saat itu yang memimpin pujian adalah Pdm. Samuel Duddy dan lagunya adalah “Ku Mau Cinta Yesus Selamanya”. Saat itu saya duduk tapi pada lagu yang kedua tiba-tiba saya berdiri dengan tangan terangkat dan saya tersedu-sedu sampai tidak bisa bernapas. Saya bingung, sudah tua seperti ini hanya menyanyi begitu saja bisa sampai menangis tersedu-sedu. Seketika tubuh saya merinding. Setelah itu seperti ada sesuatu yang keluar dari tubuh saya dan saya merasa sangat senang.

Selain itu saya juga mengucapkan bahasa roh padahal saat itu saya belum melepaskan ilmu tenaga dalam saya. Tiba-tiba saya berteriak, “Tuhan ampuni dosa saya.” Saya teriak-teriak sambil menangis kemudian lidah saya bergerak-gerak sendiri. Saya kaget tapi saya masih terus berkata-kata dalam bahasa yang baru.Kemudian saya bertanya kepada Pak Agung bagaimana lidah saya bergerak-gerak sendiri seperti orang yang sedang mengejek karena saya takut kalau rapalan ilmu saya yang dulu keluar. Pak Agung berkata, “Dipercayai saja bahwa itu bahasa Roh.” Saat itu saya belum tahu karunia bahasa Roh itu seperti apa tapi saya sudah mengalaminya sendiri.

Pada KKR Pengurapan Roh Kudus hari pertama Tuhan menjamah saya. Saat itu saya datang dengan beban hati yang berat karena saya merasa dikecewakan orang tua dan tidak disukai oleh rekan-rekan di tempat kerja saya. Setiap kali merenung saya pasti melamun. Orang-orang berkata kalau melamun itu bisa kemasukan setan. Perkataan itu benar juga. Ketika merenung, saya teringat betapa orang-orang mengecewakan saya. Saya berpikir keras mencari cara supaya rekan kerja saya dipindah ke tempat yang jauh karena saya tidak suka padanya. Suatu ketika saya membuka celah bagi iblis. Karena kecewa hati, pagi-pagi setelah selesai olah raga saya melatih tenaga dalam saya lagi dengan tujuan untuk mencelakai rekan kerja saya itu. Tapi saya pikir lagi, saya sudah bertobat tapi masih ingin mencelakai orang lain. Kalau saya mencelakai berarti saya sedang menabur dan pada saatnya nanti pasti akan menuainya.

Pada saat kenaikan Tuhan Yesus, saya malas sekali datang ke gereja, mulut saya memang mengajak istri saya ke gereja tapi sebenarnya dalam hati saya menolak. Setelah kenaikan Tuhan Yesus selalu diadakan KKR Pengurapan Roh Kudus dan inilah yang saya nanti. Dan benar, saya dilawat dan seluruh tubuh saya bergetar dan tangan saya bergerak-gerak sendiri. Kemudian saya didoakan dua kali. Ketika ditinggal saya rebah dan menangis sejadi-jadinya dan lalu ganti tertawa-tawa sampai saya pikir saya sudah gila.

Biasanya kalau saya duduk, di atas leher bagian belakang terasa sakit sekali dan sakit ini sudah saya rasakan lebih dari sebulan. Sekalipun saya sudah minum obat maupun tidur seharian sakit itu tidak juga sembuh. Pada waktu KKR setelah mendapat lawatan saya rebah dan kepala saya membentur lantai. Ketika bangun kepala saya terasa ringan. Kemudian saya bersimpuh di lantai dan mengucap syukur pada Tuhan.

KKR hari berikutnya, saya juga dilawat Tuhan. Tiba-tiba badan saya kaku sekali seperti patung kemudian bergerak seperti hendak memukul orang tapi tidak jadi, berulang kali seperti itu. Ada pendoa yang mendekati saya dan menyuruh saya untuk melepaskan pengampunan. Saya ingin berdoa tapi terasa sulit, sehingga saya hanya bersendawa dan saya lepaskan pengampunan kemudian tubuh saya lemas lagi dan bisa duduk. Saya mengucap syukur pada Tuhan yang sudah memberi saya roh sukacita dan damai sejahtera.

Hal indah lain yang terjadi adalah ketika saya masuk kantor dan bertemu dengan rekan kerja yang sebelumnya saya benci, saya mendapati bahwa Tuhan sudah mencabut segala kebencian dari hati saya. Segala kemuliaan bagi nama Tuhan!

Bp. Daniel Sudayoto