Saya Mengalami Damai Sejahtera dan Jamahan Tuhan

Teman saya memberi tahu bahwa pada hari pertama KKR Pengurapan Roh Kudus dia mendapat lawatan dan bisa berbicara 4 bahasa roh. Padahal, menurut saya hanya ada satu saja macam bahasa roh. Teman saya juga memberi tahu bahwa teman-teman lain yang datang bisa bersukacita, bahkan tertawa-tawa sendiri. Saya pikir itu tidak mungkin karena hanya seperti orang yang digelitik saja sehingga tawanya tidak akan seperti itu. Karena tidak percaya maka saya berkata pada teman saya bahwa saya akan ikut dengannya datang ke gereja pada hari Minggu.

Hari minggu itu saya datang jam setengah enam pagi dan duduk di bagian belakang. Jujur saja, saya adalah orang yang penakut, kalem, lugu, dan pemalu. Kalau pemimpin pujian menyuruh angkat tangan, saya sangat malu sehingga tangan saya angkat hanya setengah dan kelihatan aneh sekali.
Kemudian teman saya berkata, “Mungkin hari Minggu tidak ada pelepasan.” Mendengar hal itu saya merasa kecewa tapi teman saya berkata, “Apa minta minyak urapan dulu saja.” Tapi saya memutuskan untuk datang lagi hari Senin sekaligus kalau hendak minta minyak urapan. Sebelum berangkat saya mempersiapkan diri dahulu. Segala sesuatu kalau dipersiapkan terlebih dahulu pasti hasilnya akan maksimal. Sebelum berangkat saya berdoa, “Tuhan, tolong supaya saya merasakan jamahan seperti yang teman saya rasakan. Saya rindu untuk mengalaminya sendiri.”

Di gereja, ketika saya sedang menyembah Tuhan tiba-tiba air mata mengalir seperti sedang menyesali kesalahan-kesalahan saya. Ketika kursi-kursi di singkirkan, saya masih tetap menyembah Tuhan. Saya mengatakan semua yang bisa saya katakan, saya juga minta ampun atas semua dosa dan kesalahan yang sudah saya lakukan.
Tiba-tiba tangan saya merasa kesemutan dan kedua tangan bergerak cepat sekali. Kemudian saya merasakan ada hamba Tuhan yang memegang punggung dan dahi saya. Begitu dahi saya dipegang saya langsung rebah dan merasakan damai yang luar biasa. Rasanya seperti dimasukkan ke dalam air tapi tidak tenggelam. Saya senang sekali, bahkan dijatuhkan berkali-kali pun saya mau.

Hari Selasa saya datang lagi dan rebah karena jamahan Tuhan. Hari itu saya mendapatkan sukacita yang melimpah. Tiba-tiba saya bisa tertawa sendiri. Apa yang dulu saya katakan pada teman saya bahwa tidak mungkin orang bisa tertawa sendiri, sekarang saya sendiri mengalaminya. Saya tidak langsung tertawa keras, tapi tertawa kecil-kecil dahulu mungkin hanya dua atau tiga kali. Kemudian saya benar-benar tertawa terbahak-bahak sampai hati saya benar-benar puas.

Saya datang lagi pada hari berikutnya dan setiap hari saya dilawat Tuhan. Memang benar apa yang dikatakan Pak Obaja tentang baterai. Baterai kalau di re-charge maka tenaganya akan semakin bertambah dan semakin lama akan semakin kuat. Saya juga merasakan hal itu. Saya ingin menambahkan juga bahwa orang yang terus dijamah Roh Kudus tidak hanya semakin lama semakin kuat tapi menjadi kecanduan Roh Kudus dan selalu ingin menyembah.

Hari itu saya datang dengan lebih bersemangat. Saya sudah dilawat bahkan sebelum kursi disingkirkan. Tuhan memberi saya damai sejahtera dan sukacita. Saya pikir Tuhan bisa tahu dengan tepat posisi saya. Saya tidak rebah karena saya masih berdiri di depan kursi. Kalau saya rebah kasihan orang-orang di sekeliling saya. Tuhan melawat saya dengan lembut, tubuh saya dibuat seperti bersimpuh. Saya bahagia sekali dan terus memuji Tuhan.

Ketika Firman Tuhan disampaikan saya masih merasakan sukacita yang meluap tapi saya berusaha menawar Tuhan, “Tuhan, nanti dulu saja. Sekarang saya mau konsentrasi mendengarkan Firman Tuhan supaya tidak mengganggu yang lain.” Tuhan mengijinkan sehingga saya tidak tertawa. Tapi Roh Kudus tidak mau tinggal diam sekalipun mulut saya diam tapi Roh Kudus membuat kaki saya bisa goyang-goyang sendiri. Semakin lama bergerak memutar semakin cepat. Roh Kudus benar-benar ajaib. Roh Kudus benar-benar ada.

Pada hari ke empat saya merasakan Roh Kudus lebih lagi. Sejak dari tempat parkir saya sudah merasa, “Wah, saya pasti dijamah Tuhan habis-habisan.” Sejak mulai duduk saya sudah menyembah Tuhan. Kemudian Tuhan membawa saya ke samping sehingga saya bisa menyembah dengan leluasa bahkan sampai berguling-guling. Saya rasakan kepala saya sampai membentur sesuatu dan agak sakit. Sebenarnya saya capai tapi Tuhan berkata, “Bebaskan rohmu.” Maka saya pun membebaskan roh saya.
Kemudian kursi-kursi di singkirkan dan saya menyembah lagi. Saya tidak jatuh rebah mungkin karena Tuhan tahu kalau saya sudah kelelahan sehingga saya jatuh perlahan dan ambil posisi seperti orang yang bersimpuh. Roh Kudus menjamah saya dengan lembut. Roh Kudus memang baik, Dia tahu kalau kita sedang dalam kondisi yang lemah sehingga Roh Kudus tetap menopang sekalipun kita jatuh.

Pada waktu terjatuh saya terus memuji Tuhan. Sudah lama saya rindu ingin memuji Tuhan sambil diiringi gitar. Terus terang saya tidak bisa main gitar tapi tiba-tiba saja tangan saya bergerak-gerak seperti orang sedang main gitar. Saya juga ingin memainkan alat musik yang lain seperti drum dan kecapi. Sekalipun saya tidak tahu bagaimana cara memainkan kecapi tapi Roh Kudus menuntun saya sehingga tangan saya bergerak-gerak seperti orang sedang memainkan kecapi. Saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, saya ingin lagi. Apa lagi yang akan Kau berikan pada saya? Tuhan, saya ingin memuji Engkau dengan tarian.” Tiba-tiba saja tangan saya tidak bisa berhenti digerakkan seperti orang yang sedang menari. Saya ingat pelajaran di SD ada tari Jaipong lalu saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, saya ingin menari jaipong.” Seketika itu juga saya bergerak seperti orang sedang menari Jaipong. Kemudian saya ingat tari lilin dan seketika menari lilin. Saya sebutkan semua tari yang saya tahu bahkan sampai tari kecak dari Bali. Yang ingin saya katakan adalah, “Roh Kudus itu ada, Dia hadir di tempat ini dan ingin menjamah saudara dan saya. Saya merasakan bahwa Roh Kudus dicurahkan dengan luar biasa.” Kalau kita dijamah Roh Kudus maka kita akan merasakan sukacita, damai sejahtera yang luar biasa yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Kemuliaan bagi Tuhan!

Sdr. Mulyono