Saya Mengalami Kepenuhan Roh Kudus

Setiap kali di Keluarga Allah diadakan KKR Pengurapan Roh Kudus, saya belum pernah ikut selama sepuluh hari penuh. Kadang-kadang saya tidak tugas pelayanan karena saya juga ingin menikmati ibadah. Ketika diumumkan ada sepuluh hari KKR, sebulan sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri. Saya punya kerinduan, “Tuhan, aku tidak mau seperti tahun-tahun yang lalu. Dalam 10 hari KKR ini aku ingin mendapatkan sesuatu.” Saya mempersiapkan diri, berdoa puasa dan datang dengan hati yang haus dan lapar. Tuhan sungguh baik. Saya dilawat Tuhan bukan pada saat di gereja karena saya bertugas sebagai pendoa. Saat itu saya sempat berpikir, “Wah, tugas lagi. Bagaimana saya bisa menerima pengurapan?” Tapi saya bersyukur pada saat Pendeta Obaja mengumumkan bahwa semua pelayan Tuhan harus berkumpul di Ruang Yordan untuk didoakan terlebih dahulu sebelum melayani.

Hari pertama kami berkumpul di Ruang Yordan, saya berkata, “Tuhan, saya ingin mendapatkan sesuatu dalam sepuluh hari KKR ini. Saya ingin Tuhan memenuhi saya dengan urapan.” Saya menangis karena saya tidak bisa sendiri tanpa kuasa Roh Kudus. Saya memerlukan kuasa Roh Kudus dalam setiap kehidup saya. Ketika saya berkata, “Tuhan, aku datang dengan hati yang haus dan lapar. Tuhan terus penuhi aku,” saya merasakan seolah-olah saya sedang membawa sebuah baskom tapi air yang masuk dalam baskom itu hanya beberapa tetes. Saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, saya tidak mau kalau hanya tetesan air saja. Saya mau curahan air Roh Kudus yang terus menerus melimpah.” Kemudian tetesan air itu berubah menjadi aliran yang semakin lama semakin deras. Karena saya hanya membawa baskom maka airnya sampai meluap-luap. Saya berkata, “Tuhan, saya tidak mau hanya memegang baskom saja tapi saya mau seluruh hidup saya dipenuhi.” Seketika air dalam baskom itu saya guyurkan ke tubuh saya dan memintanya lagi pada Tuhan. Itu terjadi pada hari pertama.

Hari yang ke dua saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, urapi saya lebih dari yang kemarin. Saya tidak mau hanya membawa tempat yang kecil. Saya membawa tempat yang lebih besar lagi dan saya minta Tuhan curahkan yang lebih dahsyat lagi.” Tuhan pun mengisi terus sampai penuh. Saya tidak mau kalau hanya sebatas mata kaki, lutut atau sampai di pinggang saja tapi saya mau seluruh hidup saya dipenuhi oleh Roh Kudus.

Pada hari Jumat saya minta lagi pada Tuhan tapi saya bukan membawa baskom atau ember saja melainkan bak mandi yang besar sekali. “Tuhan, kalau bisa saya mau terjun ke dalamnya,” kata saya. Saya seperti membawa gayung dan terus menerus mengambil air dari dalam bak mandi yang airnya tidak pernah habis. Saya terus menyiramkan air itu ke tubuh saya sampai basah kuyup. Saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, saya benar-benar puas. Saya menginginkan urapan lebih lagi dari Tuhan.”

Hari Sabtu saya berkata lagi pada Tuhan untuk memenuhi saya. Kemudian Tuhan berkata, “Aku akan memenuhi engkau, tapi engkau tidak boleh sombong melainkan harus rendah hati.” Sebagai manusia seringkali saya lupa diri dan membanggakan apa yang ada pada diri saya. Tapi Tuhan mendidik saya, bukan hanya memenuhi saya, Tuhan mengajar saya untuk tetap rendah hati. Karena saya bertugas sebagai pendoa, saat lawatan tidak memungkin bagi saya untuk didoakan tapi pada saat pujian saya merasakan betapa baiknya Tuhan. Saya merasa Tuhan sangat mengasihi saya. Saya bisa melayani Tuhan semua karena kebaikan Tuhan. Saya rindu bukan hanya saat 10 hari KKR ini saja melainkan saya ingin terus memiliki hati yang haus dan lapar akan Tuhan sehingga pencurahan dan pengurapan Roh Kudus terjadi setiap hari. Terima kasih dan Kemuliaan bagi Tuhan.

Ibu Maria Glory