Taburlah Dahulu, Barulah Bisa Bertumbuh Dan Berbuah

RHEMA HARI INI
Mazmur 126:6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Dalam perjalanan pulang dari sebuah pertemuan Greek Orthodox Archdiocese, Bapa Demitrios Frangos dan Bapa Germanos Stavropoulos mengalami kecelakaan mobil. Seorang wanita muda yang berada dalam keadaan sangat tidak sadar karena pengaruh obat bius menabrak mobil mereka saat mereka berhenti disebuah lampu lalu lintas, dan kedua pendeta itu tewas seketika. Si wanita, seorang sekretaris ahli hukum yang memiliki seorang anak perempuan berumur tujuh tahun tidak memiliki catatan kriminal polisi sebelumnya, namun mengaku telah menggunakan obat-obatan selama sepuluh tahun. Ia dituduh melakukan pembunuhan dan beberapa tindak pidana berat lainnya. Judul-judul utama tabloid sangat kejam, merujuk kepadanya sebagai “Pembunuh Pendeta.” Putra Bapa Demotrios, George, merespon dengan pengampunan, bukan kemarahan. Ia menawarkan diri untuk membantu mencarikan seorang pengacara untuk wanita itu dan berharap jika wanita itu dijatuhi hukuman, semoga hukuman itu singkat. Katanya, “Hal terakhir yang pasti diinginkan ayah saya adalah membuat teladan (dari wanita ini). Wanita ini mengalami penderitaan dan kesusahan, kita harus merawat yang tidak bersalah, si anak. Amat sangat penting anaknya diberitahu bahwa kami mengampuni ibunya.” George Frangos mengasihi ayahnya dan berduka karena kematiannya, namun yang lebih penting baginya adalah hikmat apa yang Tuhan ingin kerjakan atas kematian ayahnya, bahwa wanita ini dan putri ciliknya pada akhirnya mengenal kasih Kristus, menjadi tuaian jiwa bagi Tuhan.

Nabi Nuh tahu prinsip Allah tentang siklus tabur tuai, oleh karenanya ia mempersembahkan korban bakaran dari apa yang tersisa dalam persediaannya dan Tuhan berkenan, Tuhan membatalkan kutuk dan mengubahnya menjadi berkat, Nuh menuai (Kejadian 8:15-22). Perasaan yang timbul pada saat kita menabur, mempersembahkan korban bakaran adalah rasa kehilangan, berduka, rugi. Itu adalah hal yang wajar, kita harus belajar mematikan perasaan itu, sebab hanya dengan cara ditabur benih itu akan menjadi tuaian. Jalan buntu diubah menjadi jalan keluar, batu sandungan menjadi batu loncatan, kemiskinan diubah menjadi kelimpahan. Itulah tuaian yang akan kita petik disaat kita berani menabur. Amin, Tuhan Yesus memberkati.

RENUNGAN
Seperti benih yang ditabur, harus mati terlebih dahulu baru kemudian bertumbuh dan berbuah banyak, demikian juga BENIH yang ada pada kita, harus kita TABUR DULU barulah bisa bertumbuh dan berbuah banyak.

APLIKASI
1. Ketika anda menabur pasti pernah rasa rugi itu timbul dalam hati anda, lalu hal apa yang anda lakukan ?
2. Pengalaman apa yang anda pernah alami dalam hal menabur, dan pelajaran apa yang anda dapat dari pengalaman itu ?

DOA UNTUK HARI INI
Bapa kami yakin bahwa setiap taburan kami akan menghasilkan tuaian, walaupun terkadang sepertinya tidak berbuah namun kami percaya tuaian besar pasti Engkau sediakan. Amin.

BACAAN ALKITAB SETAHUN :
Keluaran Pasal 12-13
Matius Pasal 16