UJIAN SAAT BERKAT HADIR

06 February 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Kejadian 22:2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Seorang bapak memiliki sebuah rumah impian bagi keluarganya. Ia pun menabung bertahun-tahun demi membangunnya. Rumah itu bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kerja keras, doa, air mata, dan penggenapan janji Tuhan. Namun suatu hari, Tuhan menggerakkan hatinya untuk membuka rumah itu sebagai tempat singgah bagi banyak orang yang membutuhkan. Saat itu awan kelabu melanda hatinya dan ia berdoa: “Tuhan, bukankah rumah ini berkat dari-Mu? Mengapa sekarang Engkau memintanya dipakai dan ‘dikurangi’ kenyamanannya?” Hal serupa pernah mengguncang iman Abraham. Ishak yang lahir baginya di masa tuanya bukan hanya seorang anak, tetapi janji Tuhan yang digenapi setelah penantian panjang. Namun, justru berkat itulah yang Tuhan minta kembali. Sesungguhnya, Tuhan bukan sedang bersikap kejam atau haus korban, tetapi Dia sedang menguji posisi hati Abraham. Apakah Abraham mengasihi pemberian Tuhan lebih dari Sang Pemberi? Tuhan ingin memastikan bahwa tidak ada berkat, seindah apa pun, yang menggantikan posisi-Nya sebagai Tuhan. Ya, berkat yang indah bisa menjadi ujian paling dalam bagi ketaatan hati. Sebab ujian terbesar sering datang bukan lewat kekurangan, melainkan lewat kelimpahan yang kita pegang erat. Bukan dengan apa yang belum kita miliki, melainkan dengan apa yang paling kita kasihi dan hargai. Kedua kisah ini mengajak kita bercermin dengan jujur. Apa berkat dalam hidup kita hari ini yang mungkin sedang Tuhan sentuh? Karier, usaha, keluarga, pelayanan, atau kenyamanan hidup? Janganlah takut ketika Tuhan menguji melalui apa yang sudah Dia berikan. Ujian itu bukan untuk mengambil, melainkan untuk memurnikan iman dan menguatkan hubungan kita dengan-Nya. Belajarlah berkata, “Tuhan, semua berasal dari-Mu dan tetap milik-Mu.” Ketika kita menyerahkan apa yang berharga bagi kita di tangan Tuhan, kita akan melihat bahwa Dia yang setia akan mencurahkan keajaiban finansial atas kita. Dia bukan hanya memulihkan keadaan kita, tetapi membawa berkat itu ke tingkat yang lebih mulia, demi kemuliaan nama-Nya. (MC) RENUNGAN Tuhan kadang MENGUJI kita dengan BERKAT yang sudah Dia berikan, bukan dengan apa yang belum kita miliki. APLIKASI 1. Berkat apa dalam hidup Anda yang paling sulit Anda serahkan kepada Tuhan saat ini? 2. Apakah Anda lebih mengasihi berkat Tuhan atau Tuhan yang memberi berkat itu? 3. Bagaimana respons Anda jika Tuhan menguji ketaatan melalui apa yang sudah Anda miliki? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan, kami bersyukur atas setiap berkat yang Engkau percayakan. Ajari kami untuk tidak melekat pada pemberian, tetapi setia mengasihi Engkau. Uji dan murnikan hati kami, supaya kami taat menyerahkan segalanya bagi kemuliaan-Mu dan hidup kami berkenan di hadapan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Ayub 38-40; Kisah para rasul 16:1-21

Baca Artikel  

ALAT UJIAN IMAN

05 February 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Matius 19:23-24 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Rumah besar, kendaraan mewah, tabungan melimpah, dan karier yang sukses. Hidup Adi seolah berada di puncak dunia. Namun suatu hari, usahanya bangkrut dalam sekejap. Saat itu, yang hilang bukan hanya harta kekayaan. Sebagai ganti rasa tenang dan puas, timbul rasa takut, marah, serta kehampaan di hatinya. Melalui semua itu, ia menyadari bahwa selama ini ia merasa aman bukan karena Tuhan, melainkan karena saldo rekeningnya. Uang yang seharusnya menjadi alat, tanpa terasa telah menjadi sandaran hidup. Saat uang itu hilang, imannya pun goyah. Hal ini pun mengingatkan kita pada ucapan Yesus dalam Matius 19:23–24. Dia berkata bahwa sangat sukar bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Bukan karena kekayaan itu jahat, melainkan karena kekayaan sering kali mengambil posisi Tuhan di hati manusia. Dengan demikian, uang menjadi alat ujian yang menyingkapkan kesetiaan hati kita. Apakah kita melayani Tuhan dengan uang yang dipercayakan, atau justru melayani uang itu sendiri? Ketika uang mengendalikan keputusan, emosi, dan rasa aman kita, di situlah ia berubah menjadi tuan yang menuntut ketaatan penuh. Meski demikian, kita perlu mengetahui bahwa Tuhan tidak menolak orang kaya, yang Dia tolak adalah hati yang terikat dan diperbudak oleh harta. Marilah kita memeriksa hati dengan jujur. Siapa yang kita layani melalui cara kita mencari, menggunakan, dan mempercayai uang? Biarlah uang tetap menjadi alat, bukan tuan. Gunakan untuk memuliakan Tuhan, menolong sesama, dan memperluas Kerajaan-Nya. Letakkan harapan kita bukan pada apa yang bisa habis, tetapi kepada Tuhan yang setia selamanya. Saat Tuhan menjadi pusat hidup kita, pintu keajaiban finansial akan terbuka bagi kita. Uang tidak lagi memperbudak, melainkan menjadi sarana berkat yang membawa hidup kita semakin dekat kepada-Nya. (MC) RENUNGAN: Uang adalah ALAT UJIAN untuk menyingkapkan SIAPA YANG KITA LAYANI. APLIKASI 1. Apakah Anda lebih merasa aman karena Tuhan atau karena uang yang Anda miliki? 2. Dalam keputusan keuangan Anda, siapa yang lebih Anda layani: Tuhan atau keinginan pribadi? 3. Bagaimana Anda dapat memakai uang yang Tuhan percayakan untuk memuliakan Dia dan memberkati orang lain? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan, kami bersyukur atas berkat yang Engkau percayakan. Ajari kami memakai uang sebagai alat, bukan tuan. Bebaskan hati kami dari keterikatan pada harta, teguhkan iman kami, dan pakailah hidup kami menjadi saluran berkat bagi sesama dan kemuliaan-Mu, setiap hari selalu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Ayub 36-37; Kisah para rasul 15: 22-41

Baca Artikel  

BUKAN HANYA BAIK TETAPI MENGIKUT YESUS

04 February 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Matius 19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Tidak sedikit orang Kristen hidup dengan reputasi baik, tetapi arah hidupnya tidak sedang mengikuti Yesus. Sebab kebaikan lebih mudah diterima, dipuji, dan dirayakan karena membuat hati terasa ringan, sementara mengikut Yesus sering kali menuntut penyangkalan diri yang menyusahkan hati. Di sinilah letak perbedaannya. Mengikut Yesus bukan sekadar melakukan hal-hal benar di mata manusia, melainkan memilih untuk tunduk pada kehendak-Nya, bahkan ketika pilihan itu terasa berat dan tidak nyaman. Bagaimanapun, Yesus tidak pernah memanggil kita untuk sekadar menjadi orang baik; Dia memanggil kita untuk memikul salib dan mengikut Dia. Saat membaca Injil Matius 19, kita dapat melihat bahwa kebaikan bisa menjadi penghalang rohani yang halus. Seorang muda yang kaya datang kepada Yesus dengan catatan moral yang rapi dan hidup yang tertib. Ia telah melakukan banyak hal baik sejak muda. Namun ketika Yesus mengundangnya untuk mengikut Dia, kebaikan itu ternyata tidak cukup. Ada satu hal yang belum ia lakukan: menyerahkan kendali hidupnya kepada Tuhan. Kemudian ia pun pergi dengan sedih, bukan karena ia jahat, melainkan karena ia tidak siap meninggalkan zona amannya. Melakukan kebaikan masih berada dalam kendalinya, tetapi mengikut Yesus menuntut penyerahan kehendak dan kepercayaan penuh. Mari kita periksa kembali arah hidup kita. Apakah kita hanya sibuk melakukan hal-hal baik, atau sungguh berjalan di belakang Kristus? Mengikut Yesus berarti membiarkan Dia menentukan arah, kecepatan, dan tujuan hidup kita. Kebaikan tanpa ketaatan dapat membuat hati merasa benar, tetapi hanya ketaatan yang membawa kita semakin dekat dengan Tuhan dan rencana-Nya. Yesus tidak mencari orang yang sekadar aktif, tetapi murid yang mau taat dan setia sampai akhir. Saat kita dapat mengikut-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, Dia pun akan membuat jalan-jalan baru di hadapan kita, sehingga keajaiban finansial terjadi di hidup kita. (SZ) RENUNGAN Melakukan hal-hal yang terlihat baik tidak sama dengan MENGIKUT YESUS. APLIKASI 1. Apakah Anda lebih nyaman dikenal sebagai orang baik daripada sebagai murid Kristus? Mengapa demikian? 2. Menurut Anda, mengapa mlakukan hal baik tidak sama dengan mengikut Yesus? 3. Bagaimana Anda dapat mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sekadar berbuat baik? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan Yesus, kami rindu bukan hanya berbuat baik, tetapi sungguh mengikut Engkau. Tuntun Langkah kami dalam ketaatan yang utuh. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Ayub 34-35; Kisah para rasul 15:1-21

Baca Artikel  

SATU HATI SATU TUAN

03 February 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Matius 6:24 Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Hati manusia sering diibaratkan seperti ruang kemudi sebuah kapal. Dari sanalah arah ditentukan dan tujuan ditetapkan. Masalahnya muncul ketika lebih dari satu kapten ingin memegang kemudi yang sama. Yesus dengan jelas berkata bahwa satu hati tidak dapat dikendalikan oleh dua tuan. Pernyataan ini menyingkap realitas rohani yang sering kita abaikan: hati tidak diciptakan untuk dibagi. Ia hanya sanggup tunduk sepenuhnya kepada satu otoritas. Ketika dua tuan hadir, yang terjadi bukan kerja sama, melainkan tarik-menarik yang melelahkan dan membingungkan. Banyak orang tidak sadar sedang mengabdi kepada dua tuan, karena tuan kedua tidak selalu tampak seperti berhala. Ia sering tampil sebagai kebutuhan, ambisi, kenyamanan, atau rasa aman yang perlahan mengambil tempat utama di hati. Kisah Ananias dan Safira yang bisa kita temukan dalam kitab Kisah Para Rasul 5 mengingatkan kita akan bahaya hati yang terbagi. Mereka mau terlihat rohani di hadapan Tuhan, tetapi juga tetap ingin mempertahankan kendali atas milik mereka. Persoalannya bukan pada jumlah yang diberikan, melainkan pada hati yang tidak sepenuhnya jujur dan utuh. Satu kaki ingin berdiri di hadapan Tuhan, sementara kaki lain masih berpijak pada kepentingan diri. Pada akhirnya, kita pun dapat melihat bagaimana hati yang terbagi selalu menghasilkan kehidupan yang rapuh. Ayat rhema hari ini mengundang kita untuk berhenti berkompromi dan mulai mengambil keputusan yang tegas. Tuhan tidak bersaing untuk mendapatkan sisa perhatian kita. Dia tidak mau menjadi salah satu pilihan, melainkan satu-satunya Tuan. Ketika hati sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan, hidup tidak lagi ditarik ke banyak arah. Ada kejelasan, ada damai sejahtera, dan ada keteguhan, sehingga hati kita siap untuk menerima keajaiban finansial yang hendak Tuhan curahkan atas hidup kita. Kesetiaan kepada satu Tuan memang menuntut keberanian, tetapi hanya di sanalah hati menemukan kebebasan sejati. (SZ) RENUNGAN: Satu hati tidak dapat dikendalikan oleh DUA TUAN. APLIKASI 1. Jika Tuhan memeriksa ruang hati Anda hari ini, akankah Dia menemukan takhta yang utuh atau hati yang terbagi? 2. Dalam keputusan hidup yang Anda ambil akhir-akhir ini, suara siapakah yang paling Anda dengarkan? 3. Apa yang perlu Anda lepaskan agar hati Anda kembali sepenuhnya berada di bawah kendali Tuhan? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan, satukan hati kami kepada Engkau. Ambil alih takhta hidup kami, lepaskan segala yang menyaingi Engkau, dan pimpin kami supaya berada hanya di bawah kendali-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Ayub 32-33; Kisah para rasul 14

Baca Artikel  

SIAPA YANG BERTAKHTA DI HATI KITA?

02 February 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Matius 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. “Jika anda ingin tahu apa yang paling penting dalam hidup seseorang, jangan dengarkan ucapannya. Lihat laporan keuangannya.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sangat dalam. Cara seseorang memperlakukan uang sering kali lebih jujur daripada kata-katanya. Dari cara bagaimana kita mencari, menggunakan, menyimpan, dan membagikan uang, terlihat dengan jelas apakah Tuhan yang bertakhta atas hidup kita ataukah uang yang diam-diam mengambil alih posisi tersebut. Yesus dengan tegas berkata bahwa di mana harta kita berada, di situ juga hati kita berada. Bahkan Dia menambahkan bahwa tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Dengan demikian, uang bukan sekadar alat tukar, tetapi cermin rohani yang menyingkapkan siapa atau apa yang sebenarnya bertakhta di hati kita. Kisah orang muda yang kaya menjadi gambaran yang kuat tentang hal ini. Ia tampak saleh, taat hukum Taurat, dan rindu hidup kekal. Namun ketika Yesus menyentuh soal hartanya, hatinya pun terungkap. Ia pergi dengan sedih karena lebih mengasihi kekayaannya daripada Tuhan (Mat 19:16-24). Sebaliknya, Zakheus menunjukkan respons yang berbeda. Pertemuannya dengan Tuhan langsung mengubah cara ia memperlakukan uang. Takhta hatinya berpindah, dan respons hidupnya pun berubah. Ia sampai rela mengembalikan dan membagikan hartanya (Luk. 19:1-10). Ya, uang itu sendiri tidak jahat, tetapi sikap hati terhadap uanglah yang menentukan arah hidup seseorang. Karena itu, mari kita jujur menilai hati kita sendiri. Cara kita memperlakukan uang—baik saat berkelimpahan maupun berkekurangan—sedang menyatakan siapa yang kita percaya, takuti, dan sembah. Tuhan tidak menuntut kita menjadi miskin, tetapi Dia rindu menjadi Tuhan atas seluruh hidup, termasuk keuangan kita. Ketika Tuhan benar-benar bertakhta di hati, uang kembali ke tempat yang benar: sebagai alat, bukan tuan. Saat kita bisa menempatkan Tuan yang benar di hati kita, keajaiban finansial pun tercurah atas hidup kita. (SZ) RENUNGAN Cara kita MEMPERLAKUKAN UANG menyingkapkan siapa yang bertakhta di hati kita. APLIKASI 1. Apa yang paling memengaruhi keputusan Anda: kehendak Tuhan atau rasa aman dari uang? 2. Apakah uang lebih sering membuat Anda cemas atau membuat Anda bersyukur dan percaya kepada Tuhan? 3. Bagaimana Anda dapat menggunakan uang untuk memuliakan Tuhan? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan, kami menyerahkan hati dan hidup kami kepada-Mu. Ajari kami memperlakukan uang dengan benar, agar Engkaulah satu-satunya yang bertakhta di hati kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Ayub 30-31; Kisah para rasul 13:26-52

Baca Artikel  

KETAATAN MEMBUKA PINTU MUJIZAT

01 February 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI 2 Korintus 5:7 sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. Selama puluhan tahun Abraham menantikan janji Tuhan akan keturunan. Ia tetap percaya meski usianya semaki lanjut dan harapan manusiawi semakin menipis. Hingga pada waktu yang ditetapkan Tuhan, Ishak lahir sebagai anak perjanjian. Namun kebahagiaan itu diuji ketika Tuhan memerintahkan Abraham mempersembahkan Ishak. Perintah ini terasa tidak masuk akal dan sangat menyakitkan, tetapi Abraham memilih taat. Dalam perjalanan ke gunung, ketika Ishak bertanya tentang korban bakaran, Abraham menjawab dengan iman, “Allah yang akan menyediakan.” Benar saja, saat Abraham mengikat dan menaruh Ishak di atas mezbah lalu mengangkat pisau, Tuhan menghentikannya, kemudian menyediakan domba sebagai pengganti. Kisah ini mengajarkan bahwa ketaatan sejati sering diuji justru setelah janji Tuhan digenapi. Tuhan tidak bermaksud mencelakakan Abraham, tetapi melihat apakah hatinya sepenuhnya berpaut kepada Allah. Demikian juga dengan kita. Ada kalanya Tuhan meminta kita melepaskan sesuatu yang sangat kita kasihi, melangkah tanpa kepastian, atau tetap setia di tengah keadaan yang sulit dimengerti. Namun satu hal yang pasti: Tuhan tidak pernah merancangkan yang jahat bagi anak-anak-Nya. Ketika Abraham taat, Tuhan meneguhkan kembali janji-Nya dan memberkatinya dengan keturunan yang tak terhitung banyaknya. Di tahun keajaiban baru ini, mari belajar hidup oleh iman dan ketaatan, bukan oleh apa yang kita lihat dan rasakan. Seperti Abraham, kita dipanggil untuk taat meski belum memahami seluruh rencana Tuhan. Saat kita melepaskan dan menyerahkan kendali hidup sepenuhnya kepada Sang Maestro Keajaiban, iman serta ketaatan itu akan membuka pintu-pintu mujizat pada waktu Tuhan yang indah. (OSA) RENUNGAN IMAN dan KETAATAN membuka PINTU bagi mujizat baru yang ajaib. APLIKASI 1. Apa hal yang Tuhan perintahkan pada Anda? 2. Sudahkah Anda mentaati perintah Tuhan tersebut? Mengapa? 3. Apa langkah Anda untuk tetap setia mengikuti setiap instruksi Tuhan? DOA UNTUK HARI INI “Bapa, terima kasih atas setiap penyertaan-Mu atas hidup kami. Kami mau dengar-dengaran akan perintah-Mu. Ajar kami untuk mendengar suara-Mu dan mentaati setiap perintah-Mu. Kami percaya, Engkau selalu merencanakan yang terbaik untuk kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Ayub 28-29; Kisah Para Rasul 13:1-25

Baca Artikel