Hati Saya Dipulihkan!

Saya datang pada KKR hari pertama. Saat pujian penyembahan saya merasa roh saya dibangun. Tapi ketika ada yang menyampaikan kesaksian, saya hanya mendengar dan melihat saja. Bukan karena saya tidak percaya karena saya pernah mengikuti retret encounter dan pernah mengalami mengalami lawatan jadi saya sangat percaya. Tapi saat itu saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam hati sehingga terus menerus saya memandang ke jam sambil mengeluh kapan acaranya akan selesai.

Ketika khotbah disampaikan, saya tetap memperhatikan dan mencatat semuanya. Tapi rasanya hati saya biasa-biasa saja. Selesai khotbah semua kursi disingkirkan dan banyak orang turun ke bawah untuk didoakan. Ketika banyak orang menjerit-jerit, saya hanya mengangkat tangan dan menaruh tangan saya di dada karena saya tidak tahu harus berdoa apa. Akhirnya saya berdoa, “Tuhan, kalau Tuhan mau penuhi saya, penuhi saya sampai meluap, penuhi saya dengan urapan dobel porsi.” Kemudian ketika tangan saya terangkat tiba-tiba terasa berat seperti orang yang kesemutan. Tangan saya mulai bergerak dari lambat menjadi tambah cepat dan semakin cepat. Saya ingin menghentikannya tapi tidak bisa. Kemudian saya jatuh dan ketika jatuh itu saya sudah tidak ingat apa-apa. Saya melihat ruangan ini seperti kosong. Kemudian ada suara yang berkata, “Anakku.” Ketika saya mendengar suara itu, hati saya benar-benar hancur. Hal itu dikarenakan sejak dari dalam kandungan sampai sebesar ini, saya belum pernah melihat wajah ayah saya. Setiap kali saya bertanya, kakak dan ibu saya berkata bahwa ayah saya sudah meninggal. Tapi setelah besar, saya tahu bahwa sejak dalam kandungan, ayah saya sudah pergi meninggalkan kami. Jadi saya tidak pernah merasakan kasih seorang ayah. Ketika saya dipanggil, “Anakku,” rasanya sangat menyenangkan. Setelah itu saya menangis seperti anak kecil dan tangan saya ini mengelus-elus wajah saya. Saya seperti dielus-elus Tuhan Yesus. Rasanya sungguh luar biasa. Setelah itu saya bisa tertawa karena merasakan Tuhan begitu mengasihi saya.

Kemudian, saya merasa seperti hendak diberi sesuatu sehingga tangan saya meraih-raih. “Ambil, ambil semua sampai kamu penuh,” kata Tuhan. Tuhan sudah menyediakan kasih yang melimpah dan saya mengambil semuanya. Setelah saya ambil kemudian Tuhan berkata, “Kamu sudah mengambil semuanya, sekarang maukah kamu mengampuni?” Saya menjawab, “Ya, Tuhan, saya mau mengampuni semuanya.” “Semua dendam kamu?” tanya Tuhan.  Dan saya menjawab, “Ya, Tuhan, semua dendam saya.” Sebenarnya saya merasa tidak dendam. Dengan ayah saya pun biasa-biasa saja. Ketika diberi tahu bahwa ayah saya ada di suatu tempat, saya merasa tidak dendam, tapi mungkin secara tidak sadar hal itu tersimpan dalam hati saya. Saya kecewa tapi tidak mengatakannya. Pada saat itulah Tuhan memulihkan dan memenuhi hati saya dengan kasihNya. Setelah saya dipulihkan dan bisa mengampuni tiba-tiba di ruangan ini seperti ada banyak sekali jemaat. Ada yang sakit dan yang berlutut, dan saya seperti orang yang hendak tumpang tangan sambil berkata, “Kamu sembuh, kamu sembuh di dalam nama Yesus.” Lalu Tuhan bertanya, “Kamu mau seperti itu?” dan saya menjawab, “Mau, Tuhan, saya mau menyembuhkan mereka.
Kemudian tangan kiri saya bergerak seperti Tuhan ingin menunjukkan tangannya yang berlubang paku dan jari saya seperti hendak masuk ke dalam lubang itu. Tuhan berkata, “Ambil, ambil.” Dan saya terus melakukan gerakan yaitu telapak tangan kanan saya membuka dan jari tangan kiri saya terus menunjuk-nunjuk ke tengahnya. Lalu Tuhan berkata, “Sekarang bagikan dan jadilah berkat.” Kemudian saya berkata sambil menunjuk-nunjuk, “Kamu sembuh, kamu sembuh.” Allah kita sungguh luar biasa.

Pada awal ibadah, ketika saya masih duduk di belakang, saya terus melihat ke arah jam dan bertanya-tanya kapan acaranya akan selesai. Tapi setelah dilawat Tuhan, saya yang paling akhir pulang. Sampai di rumah saya ingat khotbah Pak Samuel Dudy pada saat doa puasa, “Bilur Yesus melalui lubang paku di tanganNya mengubah tangan kita yang sebelumnya penuh kegagalan menjadi penuh keberhasilan.” Kemudian saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, saya mau tangan saya ini menjadi berkat dan terus menjadi berkat.”   Kemuliaan bagi Tuhan.