Sertifikat Jadi Tanpa Uang Sama Sekali

Shalom, saya ingin menyaksikan kebaikan Tuhan. Ibu saya mempunya rumah yang usia sertifikatnya 100 tahun. Saya di beri tugas untuk melegalkan sertifikat tersebut. Sudah lebih dari 5 tahun sertifikat itu diurus namun selalu gagal. Sebenarnya saya ngga mau ngurus namun saat saya lihat ibu nangis, saya merasa tidak tega. Akhirnya saya menghubungi teman saya pengacara. Teman saya menertawakan saya semua, mereka menyuruh saya untuk tidak usah mengurus sertifikat, yang penting saya tinggal di situ saja seumur hidup saya.
Saya katakan bahwa saya akan buktikan. Saya akan berjalan bersama Tuhan, dan Tuhan akan tolong saya. Akhirnya ada notaris yang mendorong saya untuk mengajukan kasus tersebut ke pengadilan. Setelah melalui beberapa persidangan, hakim minta di hadirkan 2 orang saksi. Hakim minta saksi yang usianya lebih dari 75 tahun yang tinggal di sana. Saya minta tolong ibu saya untuk cari saksi tersebut.
Singkat cerita ibu mendapat 2 saksi. Namun dalam persidangan hakim menolak karena dua saksi ini gugup. Maklum orang yang tidak pernah ikut persidangan. Hakim minta minggu depan dihadirkan 2 orang saksi lagi. Jika saya tidak dapat menghadirkan saksi itu maka gugatan saya dianggap gugur. Jujur saya lemes dan saya datang ke Pondok Daud untuk meminta pertolongan Tuhan.
Lalu saya teringat ada seorang ibu yang tinggal di Karangpandan yang sudah menganggap saya sebagai anaknya, ada dorongan dari Tuhan agar ibu itu saya jadikan saksi. Saya mulai bicara dengan ibu itu dan saya jelaskan ke beliau bagaimana jadi saksi. Sidang mundur yang seharusnya jam 09.00 karena satu dua hal maka jadi jam 16.00 sore. Saat itu hujan lewat dan saya terus dengarkan lagu pujian penyembahan. Saya terus bangun iman saya bahwa bersama Tuhan maka semua bisa. Lalu sidang dimulai dan hakim hanya bertanya, apa ibu kenal ibu ini, ibu tahu rumahnya dan ibu kenal anaknya ini. Saksi saya menjawab semua pertanya hakim. Sudah gitu saja selesai. Sungguh luar biaasa, teman saya sampai nangis. Kalau bukan Tuhan maka tidak akan mungkin. Harusnya masih ada sidang namun ternyata sudah selesai. Puji Tuhan, ini kebaikan Tuhan.
Setelah itu saya ke BPN dan ternyata biayanya sekitar 200 juta. Jujur saya katakan kepada ibu saya bahwa saya ingin istirahat dulu karena baik pikiran, hati dan tubuh semua lelah. Sungguh saat menjalani proses itu saya sangat tertekan. Saya di teror, di santet bahkan saya minta di doakan Pak Lukas. Saya sudah tidak punya uang lagi, semua sudah habis-habisan. Akhirnya ibu saya mengingatkan bahwa saya masih mempunyai uang sebab saya masih punya rumah yang saya pinjamkan ke seseorang dan ternyata rumah itu dikontrakkan ke orang lain lagi. Saya langsung nangis di Pondok Daud, saya katakan “Tuhan aku menyerah.” Lalu saya dengarkan radio dan Pak Obaja katakan, “Jika sesuatu sudah tidak ada yang bisa kita andalkan lagi maka itu saatnya mujizat akan terjadi.” Tuhan juga katakan, “Selama di pengadilan Aku mendampingimu maka itu juga yang akan Aku lakukan terhadapmu di BPN.”
Tiba-tiba Bapak RT dan RW datang ke rumah saya untuk memberitahu kalau ada program pemutihan dari Pak Jokowi. Saya daftar dan saya lengkapi persyaratannya namun pihak BPN berkata bahwa tidak bisa. Saya berdoa, “Tuhan akan memberikan yang terbaik dari yang terbaik.”
Pihak BPN tanya mana data-datanya dan saya katakan bahwa sudah saya serahkan. Ternyata data itu hilang di kantor BPN, mereka meminta maaf dan saya diijinkan mengikuti pemutihan. Namun ada file dari pengadilan yang sempat hilang. Saya diingatkan Tuhan untuk tidak takut lagi. Saya serahkan semua pada Tuhan dan saya merasa Tuhan dorong buka lemari putih, filenya ada di sana. Benar saudara file yang saya cari ada di sana. Saya segera kumpulkan file itu dan puji Tuhan sertifikat ibu saya jadi tanpa biaya sama sekali.

Narasumber : Ibu Diah